This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Kamis, 08 September 2022

Dampak Luka Hati pada Kesehatan

Dampak Luka Hati pada Kesehatan, Luka hati bukanlah sesuatu yang bisa diantisipasi dan disembuhkan dengan mudah. Jika tidak dikelola atau dikendalikan dengan benar, luka hati bisa memengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang.  Timbulnya luka hati bisa diartikan sebagai tanda ketulusan seseorang pada sesuatu yang ia miliki atau jalani. Luka hati bisa terbentuk saat seseorang yang disayangi pergi, kehilangan anggota keluarga untuk selamanya, perceraian, cinta tak berbalas, gagal dalam melakukan sesuatu, atau masalah lain di dalam kehidupan.  Efek Luka Hati pada Kesehatan Fisik Meski tidak terlihat secara kasat mata dan merupakan kejadian nonfisik, bukan berarti luka hati tidak berpengaruh kepada tubuh seseorang. Berikut adalah beberapa dampak negatif luka hati bagi fisik yang mungkin muncul:  Dada terasa sakit Salah satu efek buruk luka hati bagi kesehatan yang mungkin muncul adalah sakit dada. Penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit, baik fisik maupun emosional seperti luka hati, diproses di bagian otak yang sama.  Saat seseorang mengalami luka hati, sistem saraf tubuh akan bereaksi dan memunculkan perasaan tidak nyaman seperti munculnya rasa sakit di dada. Kondisi ini disebut dengan sindrom patah hati. Pada sebagian orang, sindrom patah hati ini sering disalah artikan sebagai serangan jantung karena memiliki gejala yang serupa.  Depresi dan kecemasan Efek buruk yang mungkin muncul terkait luka hati antara lain terjadinya penurunan motivasi, ketidakstabilan berat badan, keinginan untuk makan berlebihan atau justru tidak ada nafsu makan, sakit kepala, sakit perut, dan menurunnya kondisi kesehatan secara umum.  Luka hati juga sering membuat seseorang mengalami depresi, cemas, dan menarik diri dari keluarga atau sahabat. Hal ini merupakan reaksi emosional yang bisa menyebabkan masalah psikologis berlanjut, seperti ide untuk mengakhiri hidup, jika tidak ditangani dengan baik.  Cara Mengatasi Luka Hati agar Cepat Pergi Luka hati hanya dapat membaik seiring berjalannya waktu. Namun, beberapa cara berikut ini bisa dilakukan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi luka hati yang muncul akibat patah hati:  Ungkapkan luka hati yang dirasakan melalui tulisan Curahkan perasaan Anda pada orang terdekat dan saringlah saran dari mereka yang dapat membantu Anda menyembuhkan luka hati Hindari musik yang mengingatkan Anda pada masalah yang dialami atau kenangan masa lalu Singkirkan semua barang atau segala sesuatu yang dapat mengingatkan Anda kepadanya, atau cobalah untuk menata ruangan dengan memindahkan perabotan atau memberinya sentuhan warna-warna cerah Cobalah melakukan meditasi setidaknya selama 15 menit untuk menenangkan otak dan mengurangi rasa tidak nyaman Ajak teman atau saudara berjalan-jalan atau menonton film, guna meredakan luka hati Konsumsilah makanan yang mengandung serotonin yang tinggi, seperti nanas, tahu, susu, yoghurt, keju, kacang-kacangan, salmon, dan telur, untuk membantu Anda merasa lebih bahagia Selain beberapa cara mengatasi luka hati di atas, Anda juga harus tetap aktif melakukan kegiatan yang positif, menjaga pola makan, dan bergaul dengan lingkungan sekitar. Hal ini dapat menurunkan risiko munculnya gangguan kesehatan akibat hati yang terluka.  Menghilangkan luka hati membutuhkan waktu yang tidak singkat. Agar masa-masa buruk itu berlalu dengan cepat, sebaiknya tahan diri untuk menjalin hubungan dengan orang yang membuat Anda terluka. Selain menghindari di dunia nyata, batasi pula hubungan Anda dengannya di dunia maya.  Apabila luka hati yang dirasakan membuat Anda sulit menjalani aktivitas sehari-hari, bahkan memunculkan perasaan negatif hingga terpikir untuk melukai diri atau bunuh diri, segera konsultasikan ke psikolog agar tidak terus membebani diri Anda.

Dampak Luka Hati pada Kesehatan, Luka hati bukanlah sesuatu yang bisa diantisipasi dan disembuhkan dengan mudah. Jika tidak dikelola atau dikendalikan dengan benar, luka hati bisa memengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang. Timbulnya luka hati bisa diartikan sebagai tanda ketulusan seseorang pada sesuatu yang ia miliki atau jalani. Luka hati bisa terbentuk saat seseorang yang disayangi pergi, kehilangan anggota keluarga untuk selamanya, perceraian, cinta tak berbalas, gagal dalam melakukan sesuatu, atau masalah lain di dalam kehidupan.

Efek Luka Hati pada Kesehatan Fisik

Meski tidak terlihat secara kasat mata dan merupakan kejadian nonfisik, bukan berarti luka hati tidak berpengaruh kepada tubuh seseorang. Berikut adalah beberapa dampak negatif luka hati bagi fisik yang mungkin muncul:

Dada terasa sakit

Salah satu efek buruk luka hati bagi kesehatan yang mungkin muncul adalah sakit dada. Penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit, baik fisik maupun emosional seperti luka hati, diproses di bagian otak yang sama.

Saat seseorang mengalami luka hati, sistem saraf tubuh akan bereaksi dan memunculkan perasaan tidak nyaman seperti munculnya rasa sakit di dada. Kondisi ini disebut dengan sindrom patah hati. Pada sebagian orang, sindrom patah hati ini sering disalah artikan sebagai serangan jantung karena memiliki gejala yang serupa.

Depresi dan kecemasan

Efek buruk yang mungkin muncul terkait luka hati antara lain terjadinya penurunan motivasi, ketidakstabilan berat badan, keinginan untuk makan berlebihan atau justru tidak ada nafsu makan, sakit kepala, sakit perut, dan menurunnya kondisi kesehatan secara umum.

Luka hati juga sering membuat seseorang mengalami depresi, cemas, dan menarik diri dari keluarga atau sahabat. Hal ini merupakan reaksi emosional yang bisa menyebabkan masalah psikologis berlanjut, seperti ide untuk mengakhiri hidup, jika tidak ditangani dengan baik.

Cara Mengatasi Luka Hati agar Cepat Pergi

Luka hati hanya dapat membaik seiring berjalannya waktu. Namun, beberapa cara berikut ini bisa dilakukan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi luka hati yang muncul akibat patah hati:

  • Ungkapkan luka hati yang dirasakan melalui tulisan
  • Curahkan perasaan Anda pada orang terdekat dan saringlah saran dari mereka yang dapat membantu Anda menyembuhkan luka hati
  • Hindari musik yang mengingatkan Anda pada masalah yang dialami atau kenangan masa lalu
  • Singkirkan semua barang atau segala sesuatu yang dapat mengingatkan Anda kepadanya, atau cobalah untuk menata ruangan dengan memindahkan perabotan atau memberinya sentuhan warna-warna cerah
  • Cobalah melakukan meditasi setidaknya selama 15 menit untuk menenangkan otak dan mengurangi rasa tidak nyaman
  • Ajak teman atau saudara berjalan-jalan atau menonton film, guna meredakan luka hati
  • Konsumsilah makanan yang mengandung serotonin yang tinggi, seperti nanas, tahu, susu, yoghurt, keju, kacang-kacangan, salmon, dan telur, untuk membantu Anda merasa lebih bahagia

Selain beberapa cara mengatasi luka hati di atas, Anda juga harus tetap aktif melakukan kegiatan yang positif, menjaga pola makan, dan bergaul dengan lingkungan sekitar. Hal ini dapat menurunkan risiko munculnya gangguan kesehatan akibat hati yang terluka.

Menghilangkan luka hati membutuhkan waktu yang tidak singkat. Agar masa-masa buruk itu berlalu dengan cepat, sebaiknya tahan diri untuk menjalin hubungan dengan orang yang membuat Anda terluka. Selain menghindari di dunia nyata, batasi pula hubungan Anda dengannya di dunia maya.

Apabila luka hati yang dirasakan membuat Anda sulit menjalani aktivitas sehari-hari, bahkan memunculkan perasaan negatif hingga terpikir untuk melukai diri atau bunuh diri, segera konsultasikan ke psikolog agar tidak terus membebani diri Anda.


Referensi : Dampak Luka Hati pada Kesehatan








Berapa Lama Kita Bisa Sembuh dari Rasa Sakit Patah Hati? Ini Faktanya

Tidak ada orang yang ingin merasakan patah hati dalam hidupnya. Sayangnya, hampir setiap orang pasti pernah mengalami patah hati. Baik itu karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, putus dengan orang yang dicintai, ataupun karena perceraian. Mirisnya lagi, tidak ada yang tahu kapan pastinya seseorang bisa sembuh dari patah hati.  Sekilas Tentang Sindrom Patah Hati Patah hati bukan sekadar perumpamaan ketika kamu merasa sakit karena ditinggal oleh orang yang dicintai. Akan tetapi, patah hati atau broken heart syndrome merupakan sebuah gangguan yang terjadi pada jantung dan bersifat sementara.Patah hati sering kali disebabkan oleh situasi stres akibat kehilangan orang yang dicintai atau putus cinta. Ketika mengalami patah hati, hal ini akan membuat kamu stres dan tubuh jadi memproduksi hormon adrenalin serta kortisol secara berlebihan. Akibatnya, denyut jantung akan meningkat secara signifikan, sehingga kesehatan organ jantung juga bisa terancam.Selain itu, stres akibat patah hati juga bisa menurunkan sistem imun tubuh yang menyebabkan kamu jadi lebih mudah terserang penyakit.  Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan Seseorang untuk Sembuh dari Patah Hati?  Tidak ada yang tahu pasti berapa lama patah hati bisa sembuh dan seseorang bangkit dari keterpurukan.Namun, sebuah penelitian dari Journal of Positive Psychology mengatakan, butuh waktu rata-rata sekitar 11 minggu untuk seseorang merasa lebih baik setelah putus cinta.Selain itu, sebuah penelitian terpisah menyebutkan 18 bulan adalah waktu yang tepat untuk seseorang pulih dari patah hati karena pernikahan berakhir.  Dalam kenyataannya, patah hati memang proses yang menyedihkan serta terlihat berbeda untuk semua orang. Tidak ada waktu pasti kapan seseorang bisa bangkit dari kondisi ini.Meski demikian, ada beberapa fase yang bisa jadi tanda bahwa seseorang sudah pulih dari patah hati.  Pertama, kamu mulai membuka diri dengan orang lain. Umumnya, seseorang yang tengah patah hati akan enggan untuk berkenalan dengan orang baru. Ini dikarenakan kamu masih terpaku dan terfokus pada mantan.  Akan tetapi, jika mulai bisa membuka diri dengan orang lain, maka ini adalah kabar baik untuk dirimu! Kedua, tidak lagi merasa cemas atau sedih ketika mendengar nama mantan.Tahapan sakit hati yang paling parah adalah ketika kamu langsung menangis, stres, cemas, bahkan jantung berdebar ketika mendengar nama orang yang membuat kamu patah hati.Apabila kondisi di atas tidak lagi terjadi, maka ini jadi tanda lainnya kamu telah pulih dari rasa sakit hati. Dan yang terakhir, kamu sudah bisa berdamai dengan diri sendiri.Semakin cepat kamu berdamai dengan diri sendiri, semakin cepat juga rasa sakit hati akan hilang. Kamu tidak bisa memaafkan atau berdamai dengan orang lain, jika kamu belum berdamai dengan diri sendiri  Agar Tidak Terlalu Lama Bersedih, Lakukan Ini Saat Patah Hati Jika kamu adalah satu dari banyak orang yang sedang mengalami sakit hati, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar rasa sedih tidak ‘menguasai’ diri kamu setiap harinya:  1. Lakukan Me Time Ambil waktu untuk diri sendiri merupakan obat yang manjur untuk mengatasi masalah sakit hati.Bukan dengan berdiam diri di kamar sambil mendengar lagu sedih, tapi pilihlah aktivitas yang menyenangkan seperti jalan-jalan atau travelling ke luar kota atau luar negeri.Jika kondisi sedang tidak memungkinkan untuk pergi travelling, cukup jalan-jalan ke mal sambil berbelanja atau memanjakan diri di salon, itu juga sudah cukup.  2. Ngobrol dengan Sahabat Cara lainnya untuk menyembuhkan patah hati bisa dengan mencurahkan perasaanmu kepada sahabat dekat. Ya, jika merasa segan untuk bercerita dengan orang tua, kamu bisa curhat kepada sahabat baikmu. Meluapkan isi hatimu kepada orang lain biasanya akan membuatmu jadi lebih lega dan tenang.  3. Menangis Siapa bilang menangis itu salah? Tentu tidak. Menangis adalah satu cara yang juga ampuh untuk mengatasi rasa sakit hati.Menangislah jika kamu ingin menangis. Tidak perlu ditahan-tahan. Tapi perlu diingat, jangan sampai berlebihan dan terlalu berlarut-larut. Sebisa mungkin, setelah kamu menangis, kamu langsung mandi dan mencari kegiatan lain. Hindari mengunci diri di rumah atau mendengar lagu sedih.  4. Mandi  Terdengar sedikit aneh, sih, tapi mandi dengan menggunakan air dingin atau air hangat justru bisa bantu kamu jadi lebih rileks, lho.Biasanya, kadar emosi seseorang akan segera menurun ketika tubuh bersentuhan langsung dengan air dingin atau hangat. Tidak percaya? Coba sendiri, ya!  5. Berusaha untuk Ikhlas Meski terlihat mudah diucap di bibir, tapi segenap hati amat sulit dilakukan. Pahami dulu kondisimu sekarang. Coba introspeksi lagi apa yang salah dari hubunganmu dengan pasangan. Jika memang ada kesalahan pada dirimu yang membuatnya pergi, coba perbaiki itu.   Tapi, jika masalah datang dari pasanganmu, ingat lagi rasa sakit yang kamu rasakan. Lalu, tanamkan dalam pikiran, ‘Apakah saya benar-benar worth it untuk dia?’Setelah kamu lakukan introspeksi, tahap selanjutnya adalah berusaha menerima dan ikhlas dengan kondisi yang sekarang sedang terjadi. Memang sulit, tapi jika kamu mau mencoba, usahamu pasti akan ada hasilnya.  Perlukah ke Psikolog atau Psikiater? Apakah kondisi patah hati ini sangat mengganggu aktivitasmu, di mana kamu tidak dapat belajar, bekerja dan melakukan aktivitas harian dengan baik selama berbulan-bulan? Atau, kamu tidak dapat mengontrol kesedihanmu sehingga tidak sanggup makan minum dan hanya mengunci diri di kamar?Jika hal-hal tersebut terjadi pada dirimu, segeralah cari pertolongan ahli.   Kamu dapat mengunjungi psikolog untuk mendapatkan bantuan atau sebagai “teman bicara”. Selain itu, jika diperlukan, intervensi berupa obat-obatan bisa dilakukan dengan mengunjungi dokter kejiwaan atau psikiater. Meski hampir semua orang mengalaminya, namun bukan berarti sembuh dari patah hati adalah hal yang tidak mungkin, ya.Tidak ada orang yang ingin merasakan patah hati dalam hidupnya. Sayangnya, hampir setiap orang pasti pernah mengalami patah hati. Baik itu karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, putus dengan orang yang dicintai, ataupun karena perceraian. Mirisnya lagi, tidak ada yang tahu kapan pastinya seseorang bisa sembuh dari patah hati.  Sekilas Tentang Sindrom Patah Hati Patah hati bukan sekadar perumpamaan ketika kamu merasa sakit karena ditinggal oleh orang yang dicintai. Akan tetapi, patah hati atau broken heart syndrome merupakan sebuah gangguan yang terjadi pada jantung dan bersifat sementara.Patah hati sering kali disebabkan oleh situasi stres akibat kehilangan orang yang dicintai atau putus cinta. Ketika mengalami patah hati, hal ini akan membuat kamu stres dan tubuh jadi memproduksi hormon adrenalin serta kortisol secara berlebihan. Akibatnya, denyut jantung akan meningkat secara signifikan, sehingga kesehatan organ jantung juga bisa terancam.Selain itu, stres akibat patah hati juga bisa menurunkan sistem imun tubuh yang menyebabkan kamu jadi lebih mudah terserang penyakit.  Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan Seseorang untuk Sembuh dari Patah Hati?  Tidak ada yang tahu pasti berapa lama patah hati bisa sembuh dan seseorang bangkit dari keterpurukan.Namun, sebuah penelitian dari Journal of Positive Psychology mengatakan, butuh waktu rata-rata sekitar 11 minggu untuk seseorang merasa lebih baik setelah putus cinta.Selain itu, sebuah penelitian terpisah menyebutkan 18 bulan adalah waktu yang tepat untuk seseorang pulih dari patah hati karena pernikahan berakhir.  Dalam kenyataannya, patah hati memang proses yang menyedihkan serta terlihat berbeda untuk semua orang. Tidak ada waktu pasti kapan seseorang bisa bangkit dari kondisi ini.Meski demikian, ada beberapa fase yang bisa jadi tanda bahwa seseorang sudah pulih dari patah hati.  Pertama, kamu mulai membuka diri dengan orang lain. Umumnya, seseorang yang tengah patah hati akan enggan untuk berkenalan dengan orang baru. Ini dikarenakan kamu masih terpaku dan terfokus pada mantan.  Akan tetapi, jika mulai bisa membuka diri dengan orang lain, maka ini adalah kabar baik untuk dirimu! Kedua, tidak lagi merasa cemas atau sedih ketika mendengar nama mantan.Tahapan sakit hati yang paling parah adalah ketika kamu langsung menangis, stres, cemas, bahkan jantung berdebar ketika mendengar nama orang yang membuat kamu patah hati.Apabila kondisi di atas tidak lagi terjadi, maka ini jadi tanda lainnya kamu telah pulih dari rasa sakit hati. Dan yang terakhir, kamu sudah bisa berdamai dengan diri sendiri.Semakin cepat kamu berdamai dengan diri sendiri, semakin cepat juga rasa sakit hati akan hilang. Kamu tidak bisa memaafkan atau berdamai dengan orang lain, jika kamu belum berdamai dengan diri sendiri  Agar Tidak Terlalu Lama Bersedih, Lakukan Ini Saat Patah Hati Jika kamu adalah satu dari banyak orang yang sedang mengalami sakit hati, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar rasa sedih tidak ‘menguasai’ diri kamu setiap harinya:  1. Lakukan Me Time Ambil waktu untuk diri sendiri merupakan obat yang manjur untuk mengatasi masalah sakit hati.Bukan dengan berdiam diri di kamar sambil mendengar lagu sedih, tapi pilihlah aktivitas yang menyenangkan seperti jalan-jalan atau travelling ke luar kota atau luar negeri.Jika kondisi sedang tidak memungkinkan untuk pergi travelling, cukup jalan-jalan ke mal sambil berbelanja atau memanjakan diri di salon, itu juga sudah cukup.  2. Ngobrol dengan Sahabat Cara lainnya untuk menyembuhkan patah hati bisa dengan mencurahkan perasaanmu kepada sahabat dekat. Ya, jika merasa segan untuk bercerita dengan orang tua, kamu bisa curhat kepada sahabat baikmu. Meluapkan isi hatimu kepada orang lain biasanya akan membuatmu jadi lebih lega dan tenang.  3. Menangis Siapa bilang menangis itu salah? Tentu tidak. Menangis adalah satu cara yang juga ampuh untuk mengatasi rasa sakit hati.Menangislah jika kamu ingin menangis. Tidak perlu ditahan-tahan. Tapi perlu diingat, jangan sampai berlebihan dan terlalu berlarut-larut. Sebisa mungkin, setelah kamu menangis, kamu langsung mandi dan mencari kegiatan lain. Hindari mengunci diri di rumah atau mendengar lagu sedih.  4. Mandi  Terdengar sedikit aneh, sih, tapi mandi dengan menggunakan air dingin atau air hangat justru bisa bantu kamu jadi lebih rileks, lho.Biasanya, kadar emosi seseorang akan segera menurun ketika tubuh bersentuhan langsung dengan air dingin atau hangat. Tidak percaya? Coba sendiri, ya!  5. Berusaha untuk Ikhlas Meski terlihat mudah diucap di bibir, tapi segenap hati amat sulit dilakukan. Pahami dulu kondisimu sekarang. Coba introspeksi lagi apa yang salah dari hubunganmu dengan pasangan. Jika memang ada kesalahan pada dirimu yang membuatnya pergi, coba perbaiki itu.   Tapi, jika masalah datang dari pasanganmu, ingat lagi rasa sakit yang kamu rasakan. Lalu, tanamkan dalam pikiran, ‘Apakah saya benar-benar worth it untuk dia?’Setelah kamu lakukan introspeksi, tahap selanjutnya adalah berusaha menerima dan ikhlas dengan kondisi yang sekarang sedang terjadi. Memang sulit, tapi jika kamu mau mencoba, usahamu pasti akan ada hasilnya.  Perlukah ke Psikolog atau Psikiater? Apakah kondisi patah hati ini sangat mengganggu aktivitasmu, di mana kamu tidak dapat belajar, bekerja dan melakukan aktivitas harian dengan baik selama berbulan-bulan? Atau, kamu tidak dapat mengontrol kesedihanmu sehingga tidak sanggup makan minum dan hanya mengunci diri di kamar?Jika hal-hal tersebut terjadi pada dirimu, segeralah cari pertolongan ahli.   Kamu dapat mengunjungi psikolog untuk mendapatkan bantuan atau sebagai “teman bicara”. Selain itu, jika diperlukan, intervensi berupa obat-obatan bisa dilakukan dengan mengunjungi dokter kejiwaan atau psikiater. Meski hampir semua orang mengalaminya, namun bukan berarti sembuh dari patah hati adalah hal yang tidak mungkin.  Referensi : Berapa Lama Kita Bisa Sembuh dari Rasa Sakit Patah Hati? Ini Faktanya. Tidak ada orang yang ingin merasakan patah hati dalam hidupnya. Sayangnya, hampir setiap orang pasti pernah mengalami patah hati. Baik itu karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, putus dengan orang yang dicintai, ataupun karena perceraian. Mirisnya lagi, tidak ada yang tahu kapan pastinya seseorang bisa sembuh dari patah hati.  Sekilas Tentang Sindrom Patah Hati Patah hati bukan sekadar perumpamaan ketika kamu merasa sakit karena ditinggal oleh orang yang dicintai. Akan tetapi, patah hati atau broken heart syndrome merupakan sebuah gangguan yang terjadi pada jantung dan bersifat sementara.Patah hati sering kali disebabkan oleh situasi stres akibat kehilangan orang yang dicintai atau putus cinta. Ketika mengalami patah hati, hal ini akan membuat kamu stres dan tubuh jadi memproduksi hormon adrenalin serta kortisol secara berlebihan. Akibatnya, denyut jantung akan meningkat secara signifikan, sehingga kesehatan organ jantung juga bisa terancam.Selain itu, stres akibat patah hati juga bisa menurunkan sistem imun tubuh yang menyebabkan kamu jadi lebih mudah terserang penyakit.  Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan Seseorang untuk Sembuh dari Patah Hati?  Tidak ada yang tahu pasti berapa lama patah hati bisa sembuh dan seseorang bangkit dari keterpurukan.Namun, sebuah penelitian dari Journal of Positive Psychology mengatakan, butuh waktu rata-rata sekitar 11 minggu untuk seseorang merasa lebih baik setelah putus cinta.Selain itu, sebuah penelitian terpisah menyebutkan 18 bulan adalah waktu yang tepat untuk seseorang pulih dari patah hati karena pernikahan berakhir.  Dalam kenyataannya, patah hati memang proses yang menyedihkan serta terlihat berbeda untuk semua orang. Tidak ada waktu pasti kapan seseorang bisa bangkit dari kondisi ini.Meski demikian, ada beberapa fase yang bisa jadi tanda bahwa seseorang sudah pulih dari patah hati.  Pertama, kamu mulai membuka diri dengan orang lain. Umumnya, seseorang yang tengah patah hati akan enggan untuk berkenalan dengan orang baru. Ini dikarenakan kamu masih terpaku dan terfokus pada mantan.  Akan tetapi, jika mulai bisa membuka diri dengan orang lain, maka ini adalah kabar baik untuk dirimu! Kedua, tidak lagi merasa cemas atau sedih ketika mendengar nama mantan.Tahapan sakit hati yang paling parah adalah ketika kamu langsung menangis, stres, cemas, bahkan jantung berdebar ketika mendengar nama orang yang membuat kamu patah hati.Apabila kondisi di atas tidak lagi terjadi, maka ini jadi tanda lainnya kamu telah pulih dari rasa sakit hati. Dan yang terakhir, kamu sudah bisa berdamai dengan diri sendiri.Semakin cepat kamu berdamai dengan diri sendiri, semakin cepat juga rasa sakit hati akan hilang. Kamu tidak bisa memaafkan atau berdamai dengan orang lain, jika kamu belum berdamai dengan diri sendiri  Agar Tidak Terlalu Lama Bersedih, Lakukan Ini Saat Patah Hati Jika kamu adalah satu dari banyak orang yang sedang mengalami sakit hati, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar rasa sedih tidak ‘menguasai’ diri kamu setiap harinya:  1. Lakukan Me Time Ambil waktu untuk diri sendiri merupakan obat yang manjur untuk mengatasi masalah sakit hati.Bukan dengan berdiam diri di kamar sambil mendengar lagu sedih, tapi pilihlah aktivitas yang menyenangkan seperti jalan-jalan atau travelling ke luar kota atau luar negeri.Jika kondisi sedang tidak memungkinkan untuk pergi travelling, cukup jalan-jalan ke mal sambil berbelanja atau memanjakan diri di salon, itu juga sudah cukup.  2. Ngobrol dengan Sahabat Cara lainnya untuk menyembuhkan patah hati bisa dengan mencurahkan perasaanmu kepada sahabat dekat. Ya, jika merasa segan untuk bercerita dengan orang tua, kamu bisa curhat kepada sahabat baikmu. Meluapkan isi hatimu kepada orang lain biasanya akan membuatmu jadi lebih lega dan tenang.  3. Menangis Siapa bilang menangis itu salah? Tentu tidak. Menangis adalah satu cara yang juga ampuh untuk mengatasi rasa sakit hati.Menangislah jika kamu ingin menangis. Tidak perlu ditahan-tahan. Tapi perlu diingat, jangan sampai berlebihan dan terlalu berlarut-larut. Sebisa mungkin, setelah kamu menangis, kamu langsung mandi dan mencari kegiatan lain. Hindari mengunci diri di rumah atau mendengar lagu sedih.  4. Mandi  Terdengar sedikit aneh, sih, tapi mandi dengan menggunakan air dingin atau air hangat justru bisa bantu kamu jadi lebih rileks, lho.Biasanya, kadar emosi seseorang akan segera menurun ketika tubuh bersentuhan langsung dengan air dingin atau hangat. Tidak percaya? Coba sendiri, ya!  5. Berusaha untuk Ikhlas Meski terlihat mudah diucap di bibir, tapi segenap hati amat sulit dilakukan. Pahami dulu kondisimu sekarang. Coba introspeksi lagi apa yang salah dari hubunganmu dengan pasangan. Jika memang ada kesalahan pada dirimu yang membuatnya pergi, coba perbaiki itu.   Tapi, jika masalah datang dari pasanganmu, ingat lagi rasa sakit yang kamu rasakan. Lalu, tanamkan dalam pikiran, ‘Apakah saya benar-benar worth it untuk dia?’Setelah kamu lakukan introspeksi, tahap selanjutnya adalah berusaha menerima dan ikhlas dengan kondisi yang sekarang sedang terjadi. Memang sulit, tapi jika kamu mau mencoba, usahamu pasti akan ada hasilnya.  Perlukah ke Psikolog atau Psikiater? Apakah kondisi patah hati ini sangat mengganggu aktivitasmu, di mana kamu tidak dapat belajar, bekerja dan melakukan aktivitas harian dengan baik selama berbulan-bulan? Atau, kamu tidak dapat mengontrol kesedihanmu sehingga tidak sanggup makan minum dan hanya mengunci diri di kamar?Jika hal-hal tersebut terjadi pada dirimu, segeralah cari pertolongan ahli.   Kamu dapat mengunjungi psikolog untuk mendapatkan bantuan atau sebagai “teman bicara”. Selain itu, jika diperlukan, intervensi berupa obat-obatan bisa dilakukan dengan mengunjungi dokter kejiwaan atau psikiater. Meski hampir semua orang mengalaminya, namun bukan berarti sembuh dari patah hati adalah hal yang tidak mungkin, ya.
Tidak ada orang yang ingin merasakan patah hati dalam hidupnya. Sayangnya, hampir setiap orang pasti pernah mengalami patah hati. Baik itu karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, putus dengan orang yang dicintai, ataupun karena perceraian. Mirisnya lagi, tidak ada yang tahu kapan pastinya seseorang bisa sembuh dari patah hati.

Sekilas Tentang Sindrom Patah Hati

Patah hati bukan sekadar perumpamaan ketika kamu merasa sakit karena ditinggal oleh orang yang dicintai. Akan tetapi, patah hati atau broken heart syndrome merupakan sebuah gangguan yang terjadi pada jantung dan bersifat sementara.Patah hati sering kali disebabkan oleh situasi stres akibat kehilangan orang yang dicintai atau putus cinta. Ketika mengalami patah hati, hal ini akan membuat kamu stres dan tubuh jadi memproduksi hormon adrenalin serta kortisol secara berlebihan. Akibatnya, denyut jantung akan meningkat secara signifikan, sehingga kesehatan organ jantung juga bisa terancam.Selain itu, stres akibat patah hati juga bisa menurunkan sistem imun tubuh yang menyebabkan kamu jadi lebih mudah terserang penyakit.

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan Seseorang untuk Sembuh dari Patah Hati?

Tidak ada yang tahu pasti berapa lama patah hati bisa sembuh dan seseorang bangkit dari keterpurukan.Namun, sebuah penelitian dari Journal of Positive Psychology mengatakan, butuh waktu rata-rata sekitar 11 minggu untuk seseorang merasa lebih baik setelah putus cinta.Selain itu, sebuah penelitian terpisah menyebutkan 18 bulan adalah waktu yang tepat untuk seseorang pulih dari patah hati karena pernikahan berakhir.

Dalam kenyataannya, patah hati memang proses yang menyedihkan serta terlihat berbeda untuk semua orang. Tidak ada waktu pasti kapan seseorang bisa bangkit dari kondisi ini.Meski demikian, ada beberapa fase yang bisa jadi tanda bahwa seseorang sudah pulih dari patah hati.

Pertama, kamu mulai membuka diri dengan orang lain. Umumnya, seseorang yang tengah patah hati akan enggan untuk berkenalan dengan orang baru. Ini dikarenakan kamu masih terpaku dan terfokus pada mantan.

Akan tetapi, jika mulai bisa membuka diri dengan orang lain, maka ini adalah kabar baik untuk dirimu! Kedua, tidak lagi merasa cemas atau sedih ketika mendengar nama mantan.Tahapan sakit hati yang paling parah adalah ketika kamu langsung menangis, stres, cemas, bahkan jantung berdebar ketika mendengar nama orang yang membuat kamu patah hati.Apabila kondisi di atas tidak lagi terjadi, maka ini jadi tanda lainnya kamu telah pulih dari rasa sakit hati. Dan yang terakhir, kamu sudah bisa berdamai dengan diri sendiri.Semakin cepat kamu berdamai dengan diri sendiri, semakin cepat juga rasa sakit hati akan hilang. Kamu tidak bisa memaafkan atau berdamai dengan orang lain, jika kamu belum berdamai dengan diri sendiri

Agar Tidak Terlalu Lama Bersedih, Lakukan Ini Saat Patah Hati

Jika kamu adalah satu dari banyak orang yang sedang mengalami sakit hati, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar rasa sedih tidak ‘menguasai’ diri kamu setiap harinya:

1. Lakukan Me Time

Ambil waktu untuk diri sendiri merupakan obat yang manjur untuk mengatasi masalah sakit hati.Bukan dengan berdiam diri di kamar sambil mendengar lagu sedih, tapi pilihlah aktivitas yang menyenangkan seperti jalan-jalan atau travelling ke luar kota atau luar negeri.Jika kondisi sedang tidak memungkinkan untuk pergi travelling, cukup jalan-jalan ke mal sambil berbelanja atau memanjakan diri di salon, itu juga sudah cukup.

2. Ngobrol dengan Sahabat

Cara lainnya untuk menyembuhkan patah hati bisa dengan mencurahkan perasaanmu kepada sahabat dekat. Ya, jika merasa segan untuk bercerita dengan orang tua, kamu bisa curhat kepada sahabat baikmu. Meluapkan isi hatimu kepada orang lain biasanya akan membuatmu jadi lebih lega dan tenang.

3. Menangis

Siapa bilang menangis itu salah? Tentu tidak. Menangis adalah satu cara yang juga ampuh untuk mengatasi rasa sakit hati.Menangislah jika kamu ingin menangis. Tidak perlu ditahan-tahan. Tapi perlu diingat, jangan sampai berlebihan dan terlalu berlarut-larut. Sebisa mungkin, setelah kamu menangis, kamu langsung mandi dan mencari kegiatan lain. Hindari mengunci diri di rumah atau mendengar lagu sedih.

4. Mandi

Terdengar sedikit aneh, sih, tapi mandi dengan menggunakan air dingin atau air hangat justru bisa bantu kamu jadi lebih rileks, lho.Biasanya, kadar emosi seseorang akan segera menurun ketika tubuh bersentuhan langsung dengan air dingin atau hangat. Tidak percaya? Coba sendiri, ya!

5. Berusaha untuk Ikhlas

Meski terlihat mudah diucap di bibir, tapi segenap hati amat sulit dilakukan. Pahami dulu kondisimu sekarang. Coba introspeksi lagi apa yang salah dari hubunganmu dengan pasangan. Jika memang ada kesalahan pada dirimu yang membuatnya pergi, coba perbaiki itu. 

Tapi, jika masalah datang dari pasanganmu, ingat lagi rasa sakit yang kamu rasakan. Lalu, tanamkan dalam pikiran, ‘Apakah saya benar-benar worth it untuk dia?’Setelah kamu lakukan introspeksi, tahap selanjutnya adalah berusaha menerima dan ikhlas dengan kondisi yang sekarang sedang terjadi. Memang sulit, tapi jika kamu mau mencoba, usahamu pasti akan ada hasilnya.

Perlukah ke Psikolog atau Psikiater?

Apakah kondisi patah hati ini sangat mengganggu aktivitasmu, di mana kamu tidak dapat belajar, bekerja dan melakukan aktivitas harian dengan baik selama berbulan-bulan? Atau, kamu tidak dapat mengontrol kesedihanmu sehingga tidak sanggup makan minum dan hanya mengunci diri di kamar?Jika hal-hal tersebut terjadi pada dirimu, segeralah cari pertolongan ahli. 

Kamu dapat mengunjungi psikolog untuk mendapatkan bantuan atau sebagai “teman bicara”. Selain itu, jika diperlukan, intervensi berupa obat-obatan bisa dilakukan dengan mengunjungi dokter kejiwaan atau psikiater. Meski hampir semua orang mengalaminya, namun bukan berarti sembuh dari patah hati adalah hal yang tidak mungkin.

Referensi : Berapa Lama Kita Bisa Sembuh dari Rasa Sakit Patah Hati? Ini Faktanya





Luka Batin Seumur Hidup

Setelah ramai menjadi isu publik, kasus penelantaran anak yang dilakukan pasangan UP dan NS terungkap dan terus menjadi perhatian publik. Kementerian Sosial melaporkan, saat ini terdapat 4,1 juta anak terlantar dan 5.900 di antaranya mengalami hal yang sama dengan lima anak di Cibubur yaitu LA (10), CK (10),  D (8), A (5), dan DI (4).  Mengamati kasus tersebut, psikolog dan dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indrianie, M.Psi. mengatakan, hal ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak lantaran trauma pada anak sulit sembuh seumur hidup.  "Dampak paling ekstrem adalah trauma psikologis atau biasa kita sebut luka batin. Mereka bisa mengalami trauma ini seumur hidup karena proses tumbuh kembang pembentukan karakter ada pada usia 0-12 tahun," kata Efnie saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Senin (25/5/2015).  Berbeda dengan orang dewasa yang bisa pulih dengan self therapy, menurut Efnie, proses terapi pada anak jauh lebih rumit karena harus disesuaikan dengan usia si kecil. Misalnya terapi untuk merilis emosi negatif bisa dilakukan melalui cerita, gambar, warna dan sebagainya mengingat trauma terjadi karena pengalaman buruk yang membekas di memorinya.  "Untuk terapi biasanya dilakukan selama 2-3 bulan. Setelah itu, emosi negatif bisa muncul dalam bentuk mimpi sambil teriak-teriak dan menangis, murung hingga nafsu makan berkurang," katanya.  Kendati demikian, Efnie mengatakan, penyembuhkan trauma psikologis akan terasa percuma bila tidak ada dukungan baik dari pihak keluarga atau masyarakat terdekat. Sebab ketika terapi ini berjalan mulus, lingkungan yang buruk akan menjadi pencetus trauma ini kembali muncul.  "Anak-anak ditelantarkan atau ditolak orangtuanya itu masalah klasik. Sejak lama anak-anak di Indonesia yang kurang beruntung (terlantar) ini ada. Mestinya ini menjadi tanggung jawab bersama," katanya.  Efnie menambahkan, analogi anak itu ibarat buah sedangkan orangtua itu pohon. Artinya, untuk mengantisipasi penelantaran anak harus ada pre-education of parents.  "Jika paradigma berpikir orangtua sudah baik dengan tidak memanjakannya, tidak melakukan kekerasan atau bahkan menelantarkannya. Hal ini bisa menjadi bekal informasi yang tepat dan treatment mereka sebagai penerus bangsa," tukasnya.  Menurut Efnie, banyak program rangsangan (stimulasi) yang bisa diberikan dalam perkembangan anak. Namun yang sangat penting diperhatikan apakah program tersebut tepat untuk anak. Tidak jarang program stimulasi justru memicu stres anak. Jadi dalam memberi stimulasi pastikan sesuai dengan usia anak agar mereduksi efek stres.  Referensi : Luka Batin Seumur Hidup
Setelah ramai menjadi isu publik, kasus penelantaran anak yang dilakukan pasangan UP dan NS terungkap dan terus menjadi perhatian publik. Kementerian Sosial melaporkan, saat ini terdapat 4,1 juta anak terlantar dan 5.900 di antaranya mengalami hal yang sama dengan lima anak di Cibubur yaitu LA (10), CK (10),  D (8), A (5), dan DI (4).

Mengamati kasus tersebut, psikolog dan dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indrianie, M.Psi. mengatakan, hal ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak lantaran trauma pada anak sulit sembuh seumur hidup.

"Dampak paling ekstrem adalah trauma psikologis atau biasa kita sebut luka batin. Mereka bisa mengalami trauma ini seumur hidup karena proses tumbuh kembang pembentukan karakter ada pada usia 0-12 tahun," kata Efnie saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Senin (25/5/2015).

Berbeda dengan orang dewasa yang bisa pulih dengan self therapy, menurut Efnie, proses terapi pada anak jauh lebih rumit karena harus disesuaikan dengan usia si kecil. Misalnya terapi untuk merilis emosi negatif bisa dilakukan melalui cerita, gambar, warna dan sebagainya mengingat trauma terjadi karena pengalaman buruk yang membekas di memorinya.

"Untuk terapi biasanya dilakukan selama 2-3 bulan. Setelah itu, emosi negatif bisa muncul dalam bentuk mimpi sambil teriak-teriak dan menangis, murung hingga nafsu makan berkurang," katanya.

Kendati demikian, Efnie mengatakan, penyembuhkan trauma psikologis akan terasa percuma bila tidak ada dukungan baik dari pihak keluarga atau masyarakat terdekat. Sebab ketika terapi ini berjalan mulus, lingkungan yang buruk akan menjadi pencetus trauma ini kembali muncul.

"Anak-anak ditelantarkan atau ditolak orangtuanya itu masalah klasik. Sejak lama anak-anak di Indonesia yang kurang beruntung (terlantar) ini ada. Mestinya ini menjadi tanggung jawab bersama," katanya.

Efnie menambahkan, analogi anak itu ibarat buah sedangkan orangtua itu pohon. Artinya, untuk mengantisipasi penelantaran anak harus ada pre-education of parents.

"Jika paradigma berpikir orangtua sudah baik dengan tidak memanjakannya, tidak melakukan kekerasan atau bahkan menelantarkannya. Hal ini bisa menjadi bekal informasi yang tepat dan treatment mereka sebagai penerus bangsa," tukasnya.

Menurut Efnie, banyak program rangsangan (stimulasi) yang bisa diberikan dalam perkembangan anak. Namun yang sangat penting diperhatikan apakah program tersebut tepat untuk anak. Tidak jarang program stimulasi justru memicu stres anak. Jadi dalam memberi stimulasi pastikan sesuai dengan usia anak agar mereduksi efek stres.

Referensi : Luka Batin Seumur Hidup


Pengertian Self Healing dan Cara Melakukannya

Pengertian Self Healing dan Cara Melakukannya Self-healing adalah sebuah proses untuk penyembuhan luka batin yang mengganggu emosi. Dalam bahasa Inggris self healing artinya penyembuhan diri sendiri.  Sebagian orang tentunya mengalami masalah dan lelah secara emosional. Luka batin ini bisa terjadi dalam waktu yang lama dan berdampak pada kegiatan sehari-hari. Ada beberapa faktor yang membuat luka batin dan mengganggu emosi. Kelelahan emosional ini bisa disebabkan karena cemas, perasaan sedih ditinggalkan orang tua, merasa gagal untuk mencapai sesuatu, dan masalah lainnya di masa lalu.   Mengutip dari laman unair.ac.id, self healing termasuk tenik yang dilakukan ketika terjadi gangguan psikologis. Penyembuhan luka batin ini bisa dilakukan dengan cara relaksasi pernapasan, meditasi, dan yoga. Emosi positif dari relaksasi membuat hormon endorfin atau hormon bahagia bekerja.  Cara Self Healing Penyembuhan luka batin bisa dilakukan sendiri atau bertemu dengan psikologi. Jika anda ingin menyembuhkan diri sendiri, cobalah beberapa cara self healing ini.  1. Me Time Me Time artinya waktu untuk diri sendiri. Mengutip dari pijarpsikologi.org, umumnya masalah yang belum selesai berhubungan dengan kehadiran orang lain. Me Time bermanfaat untuk membuat diri nyaman dan lebih rileks. Meluangkan waktu sendirian tanpa memikirkan orang lain bermanfaat bagi kesehatan mental. Cara self healing ini membuat kita merasa diri sendiri adalah pusat segala kehidupan. Sementara itu orang lain hanya sebagai pelengkap kebahagiaan.   2. Berbicara dengan diri sendiri Salah satu cara untuk penyembuhan luka batin adalah berbicara pada diri sendiri. Cobalah melihat di cerman dan jujur pada diri sendiri. Berbicara sendirian bisa melampiaskan perasaan buruk terhadap sesuatu. Ketika anda mulai memahami diri sendiri, muncul rasa syukur atas kehidupan yang diberikan. 3. Masa lalu hadir untuk dimaknai Setiap orang memiliki kisah masa lalu yang berbeda. Masa lalu tersebut bisa berdampak pada masa sekarang maupun masa depan. Pikiran tentang masa lalu bisa menghantui.   3. Masa lalu hadir untuk dimaknai Setiap orang memiliki kisah masa lalu yang berbeda. Masa lalu tersebut bisa berdampak pada masa sekarang maupun masa depan. Pikiran tentang masa lalu bisa menghantui.  Ubahlah gambaran masa lalu sebagai pengalaman dan ambil sisi positif untuk penyembuhan. Masa lalu bisa ada di masa kini untuk dimaknai dan menjadi pelajaran ke depan. 4. Menulis ekspresif Menulis ekspresif merupakan cara self healing untuk menjelaskan segala perasaan yang dialami. Anda tidak perlu memperhatikan ejaan dan tanda baca untuk menulis ini.  Ubahlah gambaran masa lalu sebagai pengalaman dan ambil sisi positif untuk penyembuhan. Masa lalu bisa ada di masa kini untuk dimaknai dan menjadi pelajaran ke depan. 4. Menulis ekspresif Menulis ekspresif merupakan cara self healing untuk menjelaskan segala perasaan yang dialami. Anda tidak perlu memperhatikan ejaan dan tanda baca untuk menulis ini.  4. Menulis ekspresif Menulis ekspresif merupakan cara self healing untuk menjelaskan segala perasaan yang dialami. Anda tidak perlu memperhatikan ejaan dan tanda baca untuk menulis ini.   Contohnya anda bisa menulis apapun di buku harian yang hanya dibaca sendiri. Cara ini bisa meredakan segala emosi dan stress. Teknik menulis ini bisa membantu untuk penyembuhan dan memberikan gambaran dari sudut pandang lain. Anda bisa membuat jurnal dan menuangkan segala pikiran selama 15-20 menit setiap hari. Menulis jurnal ini bisa meningkatkan kesadaran diri dan memasuki pikiran alam bawah sadar.   5. Penyesalan sebagai kekuatan Penyesalan, kesalahan, dan pengalaman memalukan di masa lalu bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Penyesalan ini membuat seseorang berpikir berlebihan sehingga menimbulkan kecemasan. Cobalah untuk mengabaikan pikiran negatif itu dan melakukan hal positif.  6. Berdamai dengan keadaan Peristiwa buruk bisa membekas di pikiran seseorang. Anda berhak marah dan terluka karena peristiwa tersebut. Cobalah untuk tidak menyalahkan diri sendiri dan mencoba berdamai dengan keadaan.Terima setiap keadaan yang menimpa untuk menjadi pembelajaran.   7. Self Compassion Self Compassion adalah memahami keadaan emosi atas penderitaan yang dialami. Cara self healing ini berguna untuk memahami diri sendiri. Self compassion membuat seseorang bisa meningkatkan kepedulian, merespon peristiwa buruk, dan berupaya membebaskan diri dari masa lalu yang menakutkan.  8. Mindfulness Cara self healing ini membantu mengelola pikiran, perasaan, dan lingkungan yang ada dalam pikiran. Mindfulness bisa dilakukan dengan berbagai cara sederhana. Contohnya saja menutup mata dan menghirup udara segar. Cara ini berguna untuk fokus pada diri sendiri dan segala pikiran yang dimiliki.   9. Meditasi Meditasi bisa dilakukan dalam suasana santai dan tenang. Anda bisa mencari teknik dan cara meditasi melalui internet. Mengutip dari psychologytoday.com, cobalah untuk meletakkan kaki anda di tanah, ambil napas dalam-dalam, dan keluarkan.   10. Berlatih Pernapasan Cobalah untuk berbaring telentang, tarik napas selama 6 hitungan, lalu buang selama 6 hitungan. Cobalah untuk bernapas melalui hidung dan dada, kemudian hembuskan melalui mulut. Anda bisa mengulangi cara ini sekitar 5-10 menit. Berlatih pernapasan bisa menenangkan pikiran dan emosi.   11. Memaafkan diri sendiri Setelah menerima sendiri cara lainya adalah memaafkan diri sendiri. Terkadang tidak semua orang bisa memaafkan diri sendiri yang diakibatkan masa lalu. Bahkan tidak mudah untuk seseorang bisa melupakan peristiwa masa lalu yang menyakitkan. Butuh bertahun-tahun untuk menerima dan memaafkan keadaan untuk diri sendiri. Memaafkan diri sendiri menjadi cara terbaik untuk metode penyembuhan diri sendiri.   12. Kegiatan positif Anda bisa melakukan kegiatan positif seperti hobi yang bermanfaat. Manfaatkan waktu luang ketika sendirian untuk melakukan kegiatan positif. Misalnya membaca buku, berkebun, bersepeda sendirian, atau mendengarkan musik. Kegiatan positif ini bisa membantu seseorang untuk lebih bahagia dan penyembuhan.  Duduk Nyaman dan Menghembuskan   Napas Mengutip dari newsweek.com, cara sederhana untuk penyembuhan emosi adalah duduk nyaman. Cobalah cari suasana tenang untuk duduk dan mengatur pernapasan. Lakukan pernapasan mulai dari menarik nafas, hembuskan, tarik, lalu hembuskan lagi. Carilah suasana tenang, damai, dan dengarkan lagu instrumental untuk relaksasi.   Menutup Kedua Mata   Selain duduk dan menghembuskan napas, menutup kedua mata bisa menjadi penyembuhan. Ketika menutup mata, cobalah untuk merasa tenang dan pikirkan hal-hal yang menenangkan.   Carilah Tempat Nyaman untuk Sendiri   Waktu Me Time untuk penyembuhan emosi membutuhkan tempat yang nyaman dan damai. Cobalah cari tempat yang nyaman untuk melakukan kegiatan positif. Bisa juga mencari tempat untuk membaca buku atau meditasi.    Referfensi : Pengertian Self Healing dan Cara Melakukannya  . Pengertian Self Healing dan Cara Melakukannya
Self-healing adalah sebuah proses untuk penyembuhan luka batin yang mengganggu emosi. Dalam bahasa Inggris self healing artinya penyembuhan diri sendiri.  Sebagian orang tentunya mengalami masalah dan lelah secara emosional. Luka batin ini bisa terjadi dalam waktu yang lama dan berdampak pada kegiatan sehari-hari. Ada beberapa faktor yang membuat luka batin dan mengganggu emosi. Kelelahan emosional ini bisa disebabkan karena cemas, perasaan sedih ditinggalkan orang tua, merasa gagal untuk mencapai sesuatu, dan masalah lainnya di masa lalu. 

Mengutip dari laman unair.ac.id, self healing termasuk tenik yang dilakukan ketika terjadi gangguan psikologis. Penyembuhan luka batin ini bisa dilakukan dengan cara relaksasi pernapasan, meditasi, dan yoga. Emosi positif dari relaksasi membuat hormon endorfin atau hormon bahagia bekerja.

Cara Self Healing Penyembuhan luka batin bisa dilakukan sendiri atau bertemu dengan psikologi. Jika anda ingin menyembuhkan diri sendiri, cobalah beberapa cara self healing ini.

1. Me Time Me Time artinya waktu untuk diri sendiri. Mengutip dari pijarpsikologi.org, umumnya masalah yang belum selesai berhubungan dengan kehadiran orang lain. Me Time bermanfaat untuk membuat diri nyaman dan lebih rileks. Meluangkan waktu sendirian tanpa memikirkan orang lain bermanfaat bagi kesehatan mental. Cara self healing ini membuat kita merasa diri sendiri adalah pusat segala kehidupan. Sementara itu orang lain hanya sebagai pelengkap kebahagiaan.

2. Berbicara dengan diri sendiri Salah satu cara untuk penyembuhan luka batin adalah berbicara pada diri sendiri. Cobalah melihat di cerman dan jujur pada diri sendiri. Berbicara sendirian bisa melampiaskan perasaan buruk terhadap sesuatu. Ketika anda mulai memahami diri sendiri, muncul rasa syukur atas kehidupan yang diberikan. 3. Masa lalu hadir untuk dimaknai Setiap orang memiliki kisah masa lalu yang berbeda. Masa lalu tersebut bisa berdampak pada masa sekarang maupun masa depan. Pikiran tentang masa lalu bisa menghantui.

3. Masa lalu hadir untuk dimaknai Setiap orang memiliki kisah masa lalu yang berbeda. Masa lalu tersebut bisa berdampak pada masa sekarang maupun masa depan. Pikiran tentang masa lalu bisa menghantui.

Ubahlah gambaran masa lalu sebagai pengalaman dan ambil sisi positif untuk penyembuhan. Masa lalu bisa ada di masa kini untuk dimaknai dan menjadi pelajaran ke depan. 4. Menulis ekspresif Menulis ekspresif merupakan cara self healing untuk menjelaskan segala perasaan yang dialami. Anda tidak perlu memperhatikan ejaan dan tanda baca untuk menulis ini.

Ubahlah gambaran masa lalu sebagai pengalaman dan ambil sisi positif untuk penyembuhan. Masa lalu bisa ada di masa kini untuk dimaknai dan menjadi pelajaran ke depan. 4. Menulis ekspresif Menulis ekspresif merupakan cara self healing untuk menjelaskan segala perasaan yang dialami. Anda tidak perlu memperhatikan ejaan dan tanda baca untuk menulis ini.

4. Menulis ekspresif Menulis ekspresif merupakan cara self healing untuk menjelaskan segala perasaan yang dialami. Anda tidak perlu memperhatikan ejaan dan tanda baca untuk menulis ini.

Contohnya anda bisa menulis apapun di buku harian yang hanya dibaca sendiri. Cara ini bisa meredakan segala emosi dan stress. Teknik menulis ini bisa membantu untuk penyembuhan dan memberikan gambaran dari sudut pandang lain. Anda bisa membuat jurnal dan menuangkan segala pikiran selama 15-20 menit setiap hari. Menulis jurnal ini bisa meningkatkan kesadaran diri dan memasuki pikiran alam bawah sadar. 

5. Penyesalan sebagai kekuatan Penyesalan, kesalahan, dan pengalaman memalukan di masa lalu bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Penyesalan ini membuat seseorang berpikir berlebihan sehingga menimbulkan kecemasan. Cobalah untuk mengabaikan pikiran negatif itu dan melakukan hal positif.

6. Berdamai dengan keadaan Peristiwa buruk bisa membekas di pikiran seseorang. Anda berhak marah dan terluka karena peristiwa tersebut. Cobalah untuk tidak menyalahkan diri sendiri dan mencoba berdamai dengan keadaan.Terima setiap keadaan yang menimpa untuk menjadi pembelajaran. 

7. Self Compassion Self Compassion adalah memahami keadaan emosi atas penderitaan yang dialami. Cara self healing ini berguna untuk memahami diri sendiri. Self compassion membuat seseorang bisa meningkatkan kepedulian, merespon peristiwa buruk, dan berupaya membebaskan diri dari masa lalu yang menakutkan.

8. Mindfulness Cara self healing ini membantu mengelola pikiran, perasaan, dan lingkungan yang ada dalam pikiran. Mindfulness bisa dilakukan dengan berbagai cara sederhana. Contohnya saja menutup mata dan menghirup udara segar. Cara ini berguna untuk fokus pada diri sendiri dan segala pikiran yang dimiliki. 

9. Meditasi Meditasi bisa dilakukan dalam suasana santai dan tenang. Anda bisa mencari teknik dan cara meditasi melalui internet. Mengutip dari psychologytoday.com, cobalah untuk meletakkan kaki anda di tanah, ambil napas dalam-dalam, dan keluarkan. 

10. Berlatih Pernapasan Cobalah untuk berbaring telentang, tarik napas selama 6 hitungan, lalu buang selama 6 hitungan. Cobalah untuk bernapas melalui hidung dan dada, kemudian hembuskan melalui mulut. Anda bisa mengulangi cara ini sekitar 5-10 menit. Berlatih pernapasan bisa menenangkan pikiran dan emosi. 

11. Memaafkan diri sendiri Setelah menerima sendiri cara lainya adalah memaafkan diri sendiri. Terkadang tidak semua orang bisa memaafkan diri sendiri yang diakibatkan masa lalu. Bahkan tidak mudah untuk seseorang bisa melupakan peristiwa masa lalu yang menyakitkan. Butuh bertahun-tahun untuk menerima dan memaafkan keadaan untuk diri sendiri. Memaafkan diri sendiri menjadi cara terbaik untuk metode penyembuhan diri sendiri. 

12. Kegiatan positif Anda bisa melakukan kegiatan positif seperti hobi yang bermanfaat. Manfaatkan waktu luang ketika sendirian untuk melakukan kegiatan positif. Misalnya membaca buku, berkebun, bersepeda sendirian, atau mendengarkan musik. Kegiatan positif ini bisa membantu seseorang untuk lebih bahagia dan penyembuhan.

Duduk Nyaman dan Menghembuskan 

Napas Mengutip dari newsweek.com, cara sederhana untuk penyembuhan emosi adalah duduk nyaman. Cobalah cari suasana tenang untuk duduk dan mengatur pernapasan. Lakukan pernapasan mulai dari menarik nafas, hembuskan, tarik, lalu hembuskan lagi. Carilah suasana tenang, damai, dan dengarkan lagu instrumental untuk relaksasi. 

Menutup Kedua Mata 

Selain duduk dan menghembuskan napas, menutup kedua mata bisa menjadi penyembuhan. Ketika menutup mata, cobalah untuk merasa tenang dan pikirkan hal-hal yang menenangkan. 

Carilah Tempat Nyaman untuk Sendiri 

Waktu Me Time untuk penyembuhan emosi membutuhkan tempat yang nyaman dan damai. Cobalah cari tempat yang nyaman untuk melakukan kegiatan positif. Bisa juga mencari tempat untuk membaca buku atau meditasi.


Referfensi : Pengertian Self Healing dan Cara Melakukannya  



Memahami luka batin

Memahami luka batin. Bayangkan Anda seorang anak kecil berusia delapan tahun, di panas terik berjalan kaki cukup jauh pulang sendiri dari sekolah. Anda kesepian, kelelahan, dan kehausan. Begitu sampai rumah Anda berlari masuk, menarik gelas dari meja makan, tanpa sengaja menjatuhkannya.  Ayah atau ibu kaget, menghampiri dengan tubuh tegang. Bukannya menunjukkan kekhawatiran, mereka mulai memaki-maki. Mengguncang dan memukul Anda: ”Dasar goblok. Anak tidak tahu diuntung! Selalu bikin masalah. Itu gelas bagus tahu?! Hari ini kamu dihukum tidak dapat makan siang!!” Mungkin Anda sangat ketakutan, tegang, dan bingung, sementara badan terasa sakit akibat pukulan.  Dengan gerakan kacau, Anda mulai memunguti pecahan gelas, mungkin begitu paniknya sehingga tangan tertusuk dan berdarah. Ayah atau ibu sama sekali tak peduli, tegak berdiri penuh kebencian.  Luka akibat tertusuk pecahan kaca mungkin sembuh dalam waktu singkat, tetapi luka batin? Bila mengalami hal di atas, mungkin kita akan menghayati begitu banyak perasaan negatif: takut, bingung, kesepian, sedih, marah, dan menyesali diri, merasa bodoh, tak berdaya, mungkin juga sangat marah dan benci kepada orangtua yang telah berlaku tidak adil. Kita juga akan merasa sangat malu karena orangtua melakukan hal begitu buruk dan karena kita diperlakukan demikian buruk.  Trauma psikologis adalah suatu kejadian yang menghadapkan kita pada ancaman genting yang overwhelming, berdampak pada tergoncangnya keseimbangan. Ketika itu terjadi, kapasitas menyelesaikan masalah dari otak kehilangan kemampuan mengendalikan situasi. Kekagetan dan ketakutannya dapat sangat melumpuhkan, apalagi bila dibarengi sakit fisik.  Luka batin akibat perlakuan orang terdekat sering lebih menghancurkan. Apalagi bila itu terjadi berulang.  Psikoanalisis mampu menjelaskan rinci betapa perlakuan buruk dari orang terdekat sejak masa awal kehidupan dapat menghantui hingga masa dewasa. Luka batin yang tak terobati mungkin menghancurkan kepercayaan kita kepada orang lain. Luka batin juga sering menghancurkan kepercayaan kita kepada diri sendiri (”Apakah aku cukup baik untuk dicintai?; ”Adakah yang sungguh-sungguh peduli kepadaku?”)  Luka batin mencerabut jangkar psikologis atau akar terdalam dari rasa aman manusia. Bagaimana orang merespons luka batinnya?  Tergantung karakteristik kepribadian, sosialisasi yang diterima, dan keseluruhan konteks hidupnya. Rasa marah mungkin terbawa hingga dewasa. Sikap menghukum dari orangtua diadopsi dalam bentuk mudahnya individu marah dan menghukum pasangan hidup atau anak. Atau rasa tidak aman yang kuat menyebabkan kita membentengi diri akibat takut dilukai.  Ada yang jadi sinis, punya kebutuhan berlebihan tak pernah terpuaskan akan seks, kekuasaan, prestise, dan lainnya. Intinya, hal-hal itu menjadi kompensasi ketidakyakinan kita sungguh-sungguh pribadi berharga dan patut dicintai.  Luka batin dalam komunitas juga berdampak bervariasi. Proses psikologis seperti generalisasi dan pembakuan stereotipe dapat menggulirkan ribuan masalah lebih lanjut.  Pengalaman buruk langsung maupun tak langsung (yang dilihat dan didengar) dengan kelompok tertentu (polisi, perempuan, guru, orang kaya, individu dengan karakteristik fisik tertentu) dapat mengental dalam ingatan dan berpengaruh terhadap perilaku kita.  Membangun kebahagiaan  Berikut cuplikan surat seorang gadis, sebut saja Cinta, di Jakarta, yang penuh luka batin akibat tindakan orangtua sejak masa kecil dia.  ”Mbak, aku melakukan kesalahan lagi. Ibuku tadi marah-marah ke tukang yang sedang merenovasi rumah. Aku takut mereka dendam kepada Ibu dan malah kenapa-kenapa, jadi Ibu ku tenangkan. Eh, malah aku dimarahi habis-habisan. Katanya aku sok tahu, sok mengatur, durhaka. Mama teriak-teriak, lempar barang hampir kena ke kepalaku. Aku dituduh sengaja bikin Mama jadi stres supaya Mama masuk rumah sakit jiwa…. Aku tertekan banget, aku nangis berjam-jam. Kalau sudah begini, aku jadi ingin menghubungi lagi mantan pacarku. Tetapi, jangan khawatir Mbak, aku tahu itu bukan penyelesaian yang baik. Jadi, aku mau tidur dulu saja. Capekkkk.” (Dia baru putus pacaran dengan laki-laki beristri dan mulai menyadari hubungan tersebut tidak memberi manfaat apa pun bagi dia).  Dalam surat lain, dia menulis: ”Mbak, aku tidak mau jadi orang yang sama seperti ayah-ibuku yang penuh kepahitan dan menyakiti anak-anaknya. Aku sakit hati sekali kepada mamaku, sampai sekarang belum bisa ku hilangkan. Aku tahu sumber kekacauan emosi ibuku: ia bertahan hidup 32 tahun dengan suami kasar, sering menghina dan main tangan. Tadi ku dengar ayah maki-maki ibuku: ’Goblok kamu, anjing, mampus!’ Aku ingin menyayangi diriku sendiri. Pakai ukuranku sendiri dalam memahami diri sendiri, bukan ukuran orang lain, bukan ukuran mamaku atau papaku yang menganggap aku kurang pintar, kurang membanggakan, kurang cantik, kurang kaya, dan entah apa lagi.”  Ia akan terus bertahan di bidang kerjanya yang tidak disukai orangtua karena gajinya tidak sebanyak yang mereka harapkan. Ia juga akan melihat sisi-sisi positif dirinya, tidak dirontokkan komentar menyakitkan orangtua (”Kalau kamu gayanya begitu, enggak akan ada cowok mau. Paling yang datang orang-orang goblok, tukang porot, yang mau ambil duit kamu!”). Meski sulit, Cinta sedang berusaha keras membangun rasa cinta kepada diri sendiri dan tampaknya akan berhasil.  Bagaimanapun, mencegah jauh lebih mudah daripada mengobati. Bayangkan bila anak yang memecahkan gelas secara tak sengaja itu dihampiri orangtuanya yang khawatir, kemudian memeluknya, menenangkan, dan membantu membersihkan pecahan kaca. Ketakutan dan kekagetan anak akan berganti dengan kelegaan, perasaan terlindungi, terbasuh kasih sayang.
Memahami luka batin. Bayangkan Anda seorang anak kecil berusia delapan tahun, di panas terik berjalan kaki cukup jauh pulang sendiri dari sekolah. Anda kesepian, kelelahan, dan kehausan. Begitu sampai rumah Anda berlari masuk, menarik gelas dari meja makan, tanpa sengaja menjatuhkannya.

Ayah atau ibu kaget, menghampiri dengan tubuh tegang. Bukannya menunjukkan kekhawatiran, mereka mulai memaki-maki. Mengguncang dan memukul Anda: ”Dasar goblok. Anak tidak tahu diuntung! Selalu bikin masalah. Itu gelas bagus tahu?! Hari ini kamu dihukum tidak dapat makan siang!!” Mungkin Anda sangat ketakutan, tegang, dan bingung, sementara badan terasa sakit akibat pukulan.

Dengan gerakan kacau, Anda mulai memunguti pecahan gelas, mungkin begitu paniknya sehingga tangan tertusuk dan berdarah. Ayah atau ibu sama sekali tak peduli, tegak berdiri penuh kebencian.

Luka akibat tertusuk pecahan kaca mungkin sembuh dalam waktu singkat, tetapi luka batin? Bila mengalami hal di atas, mungkin kita akan menghayati begitu banyak perasaan negatif: takut, bingung, kesepian, sedih, marah, dan menyesali diri, merasa bodoh, tak berdaya, mungkin juga sangat marah dan benci kepada orangtua yang telah berlaku tidak adil. Kita juga akan merasa sangat malu karena orangtua melakukan hal begitu buruk dan karena kita diperlakukan demikian buruk.

Trauma psikologis adalah suatu kejadian yang menghadapkan kita pada ancaman genting yang overwhelming, berdampak pada tergoncangnya keseimbangan. Ketika itu terjadi, kapasitas menyelesaikan masalah dari otak kehilangan kemampuan mengendalikan situasi. Kekagetan dan ketakutannya dapat sangat melumpuhkan, apalagi bila dibarengi sakit fisik.

Luka batin akibat perlakuan orang terdekat sering lebih menghancurkan. Apalagi bila itu terjadi berulang.

Psikoanalisis mampu menjelaskan rinci betapa perlakuan buruk dari orang terdekat sejak masa awal kehidupan dapat menghantui hingga masa dewasa. Luka batin yang tak terobati mungkin menghancurkan kepercayaan kita kepada orang lain. Luka batin juga sering menghancurkan kepercayaan kita kepada diri sendiri (”Apakah aku cukup baik untuk dicintai?; ”Adakah yang sungguh-sungguh peduli kepadaku?”)

Luka batin mencerabut jangkar psikologis atau akar terdalam dari rasa aman manusia. Bagaimana orang merespons luka batinnya?

Tergantung karakteristik kepribadian, sosialisasi yang diterima, dan keseluruhan konteks hidupnya. Rasa marah mungkin terbawa hingga dewasa. Sikap menghukum dari orangtua diadopsi dalam bentuk mudahnya individu marah dan menghukum pasangan hidup atau anak. Atau rasa tidak aman yang kuat menyebabkan kita membentengi diri akibat takut dilukai.

Ada yang jadi sinis, punya kebutuhan berlebihan tak pernah terpuaskan akan seks, kekuasaan, prestise, dan lainnya. Intinya, hal-hal itu menjadi kompensasi ketidakyakinan kita sungguh-sungguh pribadi berharga dan patut dicintai.

Luka batin dalam komunitas juga berdampak bervariasi. Proses psikologis seperti generalisasi dan pembakuan stereotipe dapat menggulirkan ribuan masalah lebih lanjut.

Pengalaman buruk langsung maupun tak langsung (yang dilihat dan didengar) dengan kelompok tertentu (polisi, perempuan, guru, orang kaya, individu dengan karakteristik fisik tertentu) dapat mengental dalam ingatan dan berpengaruh terhadap perilaku kita.

Membangun kebahagiaan

Berikut cuplikan surat seorang gadis, sebut saja Cinta, di Jakarta, yang penuh luka batin akibat tindakan orangtua sejak masa kecil dia.

”Mbak, aku melakukan kesalahan lagi. Ibuku tadi marah-marah ke tukang yang sedang merenovasi rumah. Aku takut mereka dendam kepada Ibu dan malah kenapa-kenapa, jadi Ibu ku tenangkan. Eh, malah aku dimarahi habis-habisan. Katanya aku sok tahu, sok mengatur, durhaka. Mama teriak-teriak, lempar barang hampir kena ke kepalaku. Aku dituduh sengaja bikin Mama jadi stres supaya Mama masuk rumah sakit jiwa…. Aku tertekan banget, aku nangis berjam-jam. Kalau sudah begini, aku jadi ingin menghubungi lagi mantan pacarku. Tetapi, jangan khawatir Mbak, aku tahu itu bukan penyelesaian yang baik. Jadi, aku mau tidur dulu saja. Capekkkk.” (Dia baru putus pacaran dengan laki-laki beristri dan mulai menyadari hubungan tersebut tidak memberi manfaat apa pun bagi dia).

Dalam surat lain, dia menulis: ”Mbak, aku tidak mau jadi orang yang sama seperti ayah-ibuku yang penuh kepahitan dan menyakiti anak-anaknya. Aku sakit hati sekali kepada mamaku, sampai sekarang belum bisa ku hilangkan. Aku tahu sumber kekacauan emosi ibuku: ia bertahan hidup 32 tahun dengan suami kasar, sering menghina dan main tangan. Tadi ku dengar ayah maki-maki ibuku: ’Goblok kamu, anjing, mampus!’ Aku ingin menyayangi diriku sendiri. Pakai ukuranku sendiri dalam memahami diri sendiri, bukan ukuran orang lain, bukan ukuran mamaku atau papaku yang menganggap aku kurang pintar, kurang membanggakan, kurang cantik, kurang kaya, dan entah apa lagi.”

Ia akan terus bertahan di bidang kerjanya yang tidak disukai orangtua karena gajinya tidak sebanyak yang mereka harapkan. Ia juga akan melihat sisi-sisi positif dirinya, tidak dirontokkan komentar menyakitkan orangtua (”Kalau kamu gayanya begitu, enggak akan ada cowok mau. Paling yang datang orang-orang goblok, tukang porot, yang mau ambil duit kamu!”). Meski sulit, Cinta sedang berusaha keras membangun rasa cinta kepada diri sendiri dan tampaknya akan berhasil.

Bagaimanapun, mencegah jauh lebih mudah daripada mengobati. Bayangkan bila anak yang memecahkan gelas secara tak sengaja itu dihampiri orangtuanya yang khawatir, kemudian memeluknya, menenangkan, dan membantu membersihkan pecahan kaca. Ketakutan dan kekagetan anak akan berganti dengan kelegaan, perasaan terlindungi, terbasuh kasih sayang.


Referensi : Memahami luka batin