This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Rabu, 10 Agustus 2022

Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah

Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah. Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573.  Balasan minimal bagi seorang Muslim yang tertimpa musibah, sekecil apapun musibah tersebut, maka Allah akan menghapuskan kesalahannya.

Namun, apabila ia mampu bersabar & mengharapkan pahala dari musibah tersebut, maka sesungguhnya ia akan mendapatkan tambahan kebaikan. Kebanyakan manusia lalai mengharapkan pahala ketika mereka tertimpa musibah-musibah kecil seperti tertusuk duri, terkena sakit ringan (flu, batuk ), atau ketika mereka lelah karena bekerja seharian misalnya, baik seorang Ayah yang bekerja di luar rumah ataupun Ibu yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga kesehariannya dan juga hal-hal lainnya sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.

Padahal dalam semua hal tersebut, mereka memiliki peluang untuk mendapatkan kebaikan selain kepastian dihapuskannya kesalahan-kesalahan mereka.  Sudah selayaknya bagi seorang Muslim agar selalu menghadirkan niat & mengharapkan pahala di Setiap musibah yang ia alami, baik kecil maupun besar. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu mengharapkan balasan pahala hingga musibah terkecil yang kita terima. (Disarikan dari Syarah Riyadush Shalihin oleh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin dengan beberapa penambahan).

Referensi : Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah














Doa Meminta Kesembuhan Penyakit yang Diajarkan Rasulullah Muhammmad SAW

Ilustrasi : Doa Meminta Kesembuhan Penyakit yang Diajarkan Rasulullah Muhammmad SAW

Doa Meminta Kesembuhan Penyakit yang Diajarkan Rasulullah Muhammmad SAW. Setiap manusia pasti pernah merasakan sakit. Selain sebagai ujian dari Allah SWT, sakit yang diberikan kepada manusia juga sebagai penghapus dosa. Muslim juga harus yakin penyakit itu datangnya dari Allah, maka mohonlah kepada Allah dengan berdoa meminta kesembuhan.

 وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِۙ 

Artinya: dan apabila aku sakit. Dialah Yang menyembuhkan aku,". (QS. Surat Asy Syuara: 80) 

Ibnu Katsir menerangkan bahwa sesungguhnya tiada seorang pun selain-Nya yang dapat menyembuhkan dengan berbagai macam sarana pengobatan apa pun yang menjadi penyebab kesembuhan. Rasulullah SAW bersabda: 

نَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَبِيٍّ يَعُوْدُهُ فَقَالَ: لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ! كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُوْرُ –أَوْ تَثُوْرُ- عَلَى شَيْخٍ كَبِيْرٍ تزيره القبور. فَقَالَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَنَعَمْ إِذًا “                                                                                                         

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menjenguk seorang a’raby (arab badui), beliau bersabda, “Tidak mengapa, (sakitmu ini sebagai) pembersih dosa insya Allah.” Aku (Ibnu Abbas) berkata, “Pembersih dosa?! Sekali-sekali tidak, bahkan ini adalah demam yang mendidih -atau bergejolak- pada seorang yang sudah tua renta, yang akan mengantarkannya kepada kubur.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau demikian, benar (ia adalah penghapus dosa).” (H.R Bukhari). 

Selain berikhtiar dengan periksa ke dokter dan meminum obat, sebagai Muslim, jika sedang mengalami sakit atau ditimpa penyakit dianjurkan berdoa memohon kepada Allah agar segera diberi kesembuhan atau diangkat penyakitnya. 

Ini Keutamaannya Berikut doa meminta kesembuhan yang bisa diamalkan jika sedang sakit sesuai anjuran Rasulullah SAW

. أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمَ أَنْ يَشْفِيَكَ، فَإِنْ كَانَ فِيْ أَجَلِهِ تَأْخِيْرٌ عُفِيَ مِنْ وَجَعِهِ،  

Asalullahal Adhiim rabbal 'arsyil 'adhim. An yasyfiika fa inkaana fii ajalihi takhirun 'afii min waj'ihi. Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, pemilik ‘Arsy yang besar untuk menyembuhkanmu. Maka apabila dalam ajalnya yang datang kemudian, semoga dia diselamatkan (dibebaskan) dari rasa sakitnya." Doa kedua yang bisa diamalkan yakni:

 شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ 

Latin: Syafallahu saqomaka, waghofaro dzanbaka wa'aafaaka fii diinika wajismika illa muddatin ajalika. Artinya: "Wahai (sebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia,". Doa ketiga yang bisa diamalkan yakni:

 اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَۚ 

Artinya: "(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al Anbiya:83). 

Doa tersebut dibaca Nabi Ayyub yang ditimpa penyakit selama puluhan tahun. Dengan sabar, Nabiyullah Ayyub as selalu berzikir mengingat Allah hingga semua penyakitnya diangkat oleh Allah dan sembuh seperti semula. Doa lain yang bisa diamalkan agar terhindar dari penyakit. 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ 

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya.”(HR. Abu Dawud 1554). 

Selain itu, Muslim juga perlu memanjatkan doa berikut:

 اللهُمَّ ارْفُعْ عَنَّا الغَلا وَالوَبَاء وَالرِّبا وَالزِّنا وَالزَّلازِلَ وَالمِحَنَ، وَسُوءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَما بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ  سَائِرِ بِلادِ المُسْلِمِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أِرْحَمَ الرَّاحِمِينَ 

Allahummar fa' 'annal ghala wal waba’ war-riba waz zina wal zalazila wal mihan, wa su'al fitan, ma dhahara minha wa ma bathan, 'an bilaadina haadza khaashatan wa 'an saa'iri biladil muslimiin, bi rahmatika yaa arhamar-raahimiin. Artinya: Ya Allah, hindarkanlah dari kami kekurangan pangan cobaan hidup penyakit-penyakit wabah, perbuatan-perbuatan keji dan munkar, ancaman-ancaman yang beraneka ragam paceklik-paceklik dan segala ujian, yang lahir maupun batin dari negeri kami ini pada khususnya dan dari seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya, karena sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu adalah kuasa. 

Dengan berserah diri dan berprasangka baik kepada Allah atas musibah dan penyakit yang dideritanya, insyaallah akan dihapus dosa-dosanya dan segera diangkat penyakitnya. Rasulullah SAW bersabda:

 قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا فَمَسِسْتُهُ بِيَدِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ فَقُلْتُ ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجَلْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا 

Abdullah bin Mas`ud berkata; Aku pernah menjenguk Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang menderita rasa sakit yang sangat berat, lalu aku memegang beliau sambil berkata; "Wahai Rasulullah, sepertinya anda sedang menderita sakit yang sangat berat, " beliau menjawab: "Benar, rasa sakit yang menimpaku ini sama seperti rasa sakit yang menimpa dua orang dari kalian." Kataku selanjutnya; "Sebab itu anda mendapatkan pahala dua kali lipat." Beliau menjawab: "Benar, " kemudian beliau bersabda lagi: "Tidaklah seorang muslim yang menderita sakit atau yang lain, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan dedaunannya." (HR. Bukhari) [No. 5660 Fathul Bari] Shahih. 

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى

 الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ 

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya." (HR. Bukhari).

Referensi : Doa Meminta Kesembuhan Penyakit yang Diajarkan Rasulullah Muhammmad SAW











Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa- dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun- daunnya

Ilustrasi Ceramah : Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa- dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun- daunnya

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa- dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun- daunnya”. (HR.Bukhari no 5660 dan muslim no 2571).

Setiap manusia pasti pernah mengalami sakit, baik sakit ringan ataupun yang berat. Ketika sakit badan akan merasakan tidak nyaman bahkan harus menahan rasa sakit. Terkadang yang mengalamai sakit bisa menjalankan aktivitas dan tetap bekerja seperti biasanya. Namun, ada dalam kondisi tertentu, tidak dapat beraktivitas harus beristirahat total untuk menjalani pengobatan secara intensif.

Saat mendapat anugerah sakit tak selamanya harus disesali, karena terkadang dengan sakit kerap kali mendatangkan beberapa hikmah. Allah menciptakan sakit agar bisa merasakan nikmat sehat, makan dengan leluasa dan dapat beraktivitas serta beribadah dengan baik. Insya Allah sakit dapat menyucikan dosa, menutupi kesalahan, dan mengangkat derajat.

Hal tersebut sesuai dengan Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa- dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun- daunnya”.(HR.Bukhari no 5660 dan muslim no 2571).

Sehat dan sakit merupakan karunia Allah tak ada kekuatan yang bisa menghalanginya. Apabila mendapat anugerah sakit, kita tidak boleh berdiam diri tanpa usaha untuk sembuh, tetapi kita dituntut untuk ikhtiar semaksimal mungkin. Adapun hasilnya tetap merupakan ketentuan Allah.

Ikhtiar untuk sembuh dari sakit harus disertai semangat, kesabaran dan keyakinan untuk sehat kembali. Hal itu akan mempermudah dalam menjalani pengobatan, baik secara medis ataupun alternatif tak lupa harus diiringi dengan ibadah sesuai kondisi serta memanjatkan doa kepada Allah. Ikhtiar tersebut sangat dianjurkan dalam Islam untuk membantu kesembuhan.

Selain menjalani pengobatan, Rasulullah SAW mengajarkan bacaan doa untuk orang sakit agar Allah memberikan kesembuhan. Berikut beberapa doa untuk kesembuhan yang dianjurkan :

1. Surat Al Fatihah.

Artinya:

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kamu sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang Engkai beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

2. Doa kesembuhan dari penyakit.

Artinya:

“ Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit, berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri”

3. Doa yang diucapkan Rasulullah agar cepat sembuh (baca 7 kali)

Artinya:

“Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu”

4. Doa meminta kesembuhan dan ampunan

Artinya:

“Wahai (sebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia”

5. Doa Rasulullah Ketika ruqyah pad orang sakit

Doa untuk orang sakit © 2021 brilio.net

Artinya:

“Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Kau

6. Doa untuk kesembuhan dengan menyebut nama.

Artinya:

“Tuhanku, sembuhkan (Sa’ad/nama yang didoakan). Tuhanku, sembuhkan (Sa’ad/nama yang didoakan). Tuhanku, sembuhkan (Sa’ad/nama yang didoakan).”

7. Doa yang dibacakan ketika menjenguk orang sakit.

Artinya:

“(Semoga) tidak apa-apa (sakit), semoga suci dengan kehendak Allah.”

8. Doa kesembuhan Nabi Ayub

Doa untuk orang sakit © 2021 brilio.net

Artinya:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al Anbiyaa ayat 83)

9. Doa meminta kesembuhan.

Artinya:

“Dengan nama Allah, dengan nama Allah, dengan nama Allah, aku lindungi kamu berkat kemuliaan Allah dan qudrah-Nya dari kejahatan barang yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Besar, Tuhan Arasy yang maha besar agar Dia menyembuhkanmu.”

Sakit merupakan ketentuan Allah, tetapi kita diberi akal dan jalan oleh Allah untuk sembuh. Sebagai muslim yang taat beragama, apabila sakit kita diwajibkan ikhtiar untuk memperoleh kesembuhan dengan tidak lupa berdoa kepada Allah.

Sakit yang menimpa seseorang merupakan tanda cinta Allah kepada hambaNya, dan apabila dijalani dengan sabar, ikhlas dan semangat untuk sembuh, insya Allah akan diridhaiNya.

“Siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR Bukhari).

Referensi : Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa- dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun- daunnya




Tujuh Musibah Penghapus Dosa

Ilustrasi Ceramah  : Tujuh Musibah Penghapus Dosa

عنْ أَبي سَعيدٍ وأَبي هُرَيْرة رضيَ اللَّه عَنْهُمَا عن النَّبيِّ ﷺ قَالَ: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى وَلاَ غمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها إِلاَّ كفَّر اللَّه بهَا مِنْ خطَايَاه. متفقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Sa’id al Khudriy dan Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda: “Tidaklah menimpa seorang Muslim berupa rasa sakit (yang terus-menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti, sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.”

Sabar atas Musibah

Yushibu dari kata ashaaba yushiibu yang berarti menimpa. Kata ini memiliki akar yang sama dengan kata musibah yang sering kita dengar dalam kehidupan. Jadi kata musibah merupakan kata serapan dari bahasa Arab.

Apa yang menimpa pada seorang Muslim semuanya adalah kebaikan bagi dirinya. Maka sabar merupakan kata kunci untuk tetap bahagia dalam kehidupan dalam keadaan bagaimanapun. Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal; segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.

Sabar termasuk perbendaharaan dalam setiap insan, sehingga menjadi daya tahan baginya terhadap berbagai masalah yang menimpanya.

Di antara ulama membagi sabar itu antara lain, ashshabru ‘ala tha’atillah yakni sabar dengan tetap taat kepada Allah. Ada juga ashshabru ‘alal mashaa ib yakni sabar terhadap berbaga musibah yang menimpa.

Atau ashabru ‘anil makaarihi wa maharamihi yakni sabar dari apa yang dimakruhkan atau dibenci dan apa yang diharamkan-Nya, tentu dengan jalan menghindarinya.

Allah selalu menyertai orang-orang yang sabar.

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Anfal 46).

Tujuh Musibah Penghapus Dosa

Dalam hadits di atas dijelaskan Allah SWT menghapus dosa-dosa seorang Muslim saat mereka sabar ketika ditimpa musibah. Paling tidak ada tujuh musibah yang mendapatkan jaminan dihapusnya dosa-dosa.

Tujuh itu mewakili semua jenis musibah yang dialami oleh seorang hamba.

Tujuh itu mewakili semua jenis musibah yang dialami oleh seorang hamba. Begitulah kasih sayang Allah kepada hamba-Nya semua dinilai kebaikan dan tentu akan diberi balasan kebaikan pula.

Pertama nashab, yakni at-ta’ab yaitu kelelahan karena hambatan—apa saja yang menjadi hambatan dalam seluruh sendi kehidupan untuk lebih baik. Kedua washab, yaitu sakit yang terus-menerus.

Dua ujian ini seringkali menggelincirkan manusia untuk mencari solusi dengan yang justru dilarang dengan mendatangi dukun. Maka harus berhati-hati, jika diindikasikan ada perbuatan kesyirikan maka sebaiknya tidak dilakukan.

Ketiga haammun, yaitu keresahan atau kekhawatiran di masa depan. Keempat hazan, yaitu keresahan jiwa baik disebabkan oleh nashab dan washab sebagaimana pembahasan di atas.

Kelima adza, yaitu memenuhi keempat unsur di atas. Dan keenam ghammun, yaitu asyaddul hazan au alhamusysyadiidu jiddan yakni sangat menderita atau teramat sedih sekali.

Jadi semua perasaan-perasaan tersebut adalah sesuatu yang wajar. aAkan tetapi jangan sampai terlarut dan menjadikan kehilangan kesadaran, sehingga dapat kembali seperti sedia kala dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Terakhir, ketujuh, adalah tertusuk duri karena aktivitas yang dapat menyebabkannya itu. Semua kejadian itu jika diterima dengan penuh sabar dan tawakal akan menghapus dosa-dosa karena diampuni oleh Allah SWT.

Beda Bahagia dan Senang

Kebahagian itu hanya bisa dicapai dengan sabar dan tawakal. Berbeda dengan kesenangan, akan dicapai dengan memperturutkan hawa nafsunya. Oleh karena itu beda bahagia dan senang adalah terletak pada perasaannya.

Bahagia bersifat permanen dalam hati karena keridhaannya kepada apapun keputusan Allah atas darinya. Seolah terserah Allah apapun yang akan menimpa kepada dirinya, sembari terus berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan hasilnya itulah yang terbaik bagi dirinya.

Jika mendapatkan anugerah akan selalu bersyukur dengan terus meningkatkan intensitas ibadahnya. Juga semakin mempertajam empatinya kepada sesama, dengan harapan menjadi kebaikan di kehiupan berikutnya.

Dan jika tidak mendapatkan sesuai harapan maka tetap bersabar dengan berusaha istikamah dalam rangka terus-menerus beribadah dengan sebaik-baiknya.

Dengan demikian insyaallah akan merasakan kebahagiaan selalu dalam kehidupannya. Tidak sedikitpun merasa khawatir akan harta bendanya sendikit pun.

Musibah Jalan Maktifat

Rezeki tidak akan salah alamat. Dan kerena itu harus dianggap sebagai amanah yang justru tidak perlu dibanggakan, bangga seolah menjadi orang yang sukses dan bahagia.

Padahal sebenarnya yang terjadi hanyalah kesenangan semata yang sifatnya sementara dan akan timbul tenggelam. Hanya dengan menghilangkan kekhawatiran dalam diri menyebabkan diri menjadi bahagia dan bukan terjebak pada sekedar senang.

Seorang hamba jika ditimpa musibah dan dijalaninya dengan sabar berarti ia telah bermakrifat kepada Allah, bahwa dirinya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah SWT.

Mereka ini yang akan selalu mendapatkan shalawat dan rahmah Allah, dan mereka itu berarti termasuk orang-orang mendapatkan petunjuk.

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah 155-157).

Referensi : Tujuh Musibah Penghapus Dosa

















Musibah Bagi Orang Beriman Penghapus Dosa

Ilustrasi gambar : Musibah Bagi Orang Beriman Penghapus Dosa

Musibah Bagi Orang Beriman Penghapus Dosa.  Kata “musibah” berasal dari bahasa Arab yang berarti setiap kejadian yang tidak disukai.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, musibah diartikan sebagai kejadian atau peristiwa menyedihkan yang menimpa seseorang. Kata “Musibah” di dalam Al-Qur’an disebutkan secara eksplisit di antaranya:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬

Artinya: “Tiada suatu musibahpun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS Al-Hadid 57: 22).

Ayat ini sekaligus mengingatkan bahwa apabila kita diuji dengan suatu musibah, maka itu sudah tercatat di Lauh Mahfuzh. Hanya kita saja yang tidak tahu, dan baru tahu setelah terjadi kemudian. Hal ini agar kita tidak terlalu bersedih, risau apalagi putus asa.

Sikap terbaik menghadapi musibah adalah dengan mengembalikannya kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Seperti disebutkan di dalam ayat:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ

Artinya: “[yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. (QS Al-Baqarah [2]: 156).

Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi Wasallam menyebutkan sejumlah jenis musibah, antara lain adalah adanya rasa lelah, sakit, resah, sedih, derita, hingga tertusuk sebuah duri sekali pun. Itupun dapat disebut sebagai musibah.

Jika itupun menimpa orang-orang beriman, maka justru hal itu sebagai penghapus dari dosa-dosanya dan menjadi cara Allah memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya.

Ini seperti disebutkan di dalam hadits:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya : “Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Karena itu, musibah itu dimaknai sebagai sesuatu yang menimpa seseorang, tapi tidak selalu berarti buruk. Seperti hujan bisa menimpa kita, padahal kita baru menjemur pakaian, belum kering semuanya. Namun hujan itu bukanlah suatu yang buruk, pada sisi lain ia dapat merupakan sesuatu yang baik. Justru hujan yang dinanti-nanti para petani.

Begitulah, musibah itu tidak selamanya dapat diartikan sebagai alamat murka Allah. Tapi bisa jadi ia adalah ujian dari Allah sebagai tanda kasih sayang-Nya dan cara bagaimana Allah ingin meningkatkan derajat hamba-Nya.

Begitu pula sebaliknya dengan nikmat, tidak selamanya sebagai pertanda mendapat keridhaan Allah.

Bahagia dan musibah kedua-duanya merupakan Sunnatullah terhadap makhluk-Nya Allah sebagai ujian keimanan seseorang dari Tuhannya.

Allah menyebut di dalam ayat:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS Al-Ankabut [29]: 2-3). 

Cara terbaik bagi kita orang-orang beriman adalah bersyukur ketika mendapatkan ujian kenikmatan dan kelapangan, serta bersabar saat menghadapi kekusahan dan kesempitan. Dan itu mendatangkan pahala keduanya.

Seperti disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Artinya:“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (H.R. Muslim dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Radhiyallahu ‘Anhu).

Referensi : Musibah Bagi Orang Beriman Penghapus Dosa










Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Allah Swt akan menghapus (dosa orang itu)

Ilustrasi : Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Allah Swt akan menghapus (dosa orang itu)

Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Allah Swt akan menghapus (dosa orang itu). Allah ta’alaa mempunyai cara menerima taubat seseorang salahsatunya dengan memberikan cobaan kepada hamba-Nya berubah musibah. 

Sahih al-Bukhori : 5209

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: 

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا.

Dari Aisyah ra, istri Nabi saw, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: 

Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Allah akan menghapus (dosa orang itu) dengannya, bahkan duri yang menyakitinya sekalipun.

  1. Musibah yang menimpa seorang hamba, sekecil apapun itu akan menghapus kesalahannya.
  2. Maha baik Allah yang tidak menyia-nyiakan hal sekecil apapun, bahkan sepotong duri saja yang melukai kita akan Allah jadikan penghapus dosa.

Ketika seseorang mendapatkan musibah, yakinlah bahwa Allah ta’alaa sedang menghapuskan dosa-dosa hambaNya. Berprasangka baiklah kepada Allah dan jangan pernah berputus asa.

Ilustrasi : Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Allah Swt akan menghapus (dosa orang itu).







Istri Solikah

Ilustrasi : Istri Solikah

Bahagia rasanya saat akad nikah terucap, saat semarak walimatul ‘urs menggema, saat tali pernikahan terikat. Saat itu telah halal cinta dua orang insan, saling mengisi dan saling melengkapi setiap harinya. Saat itu pula masing-masing pasangan akan memiliki tugas dan kewajiban baru dalam kehidupan mereka. Sang suami memiliki hak yang harus ditunaikan istrinya, dan sang istripun mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh suaminya. Alangkah bahagianya jika masing-masing secara seimbang senantiasa berupaya menunaikan kewajibannya.

Duhai saudariku muslimah, kini aku bertanya padamu… bukankah indah rasanya jika seorang istri mematuhi suaminya, kemudian ia senantiasa menjadi penyejuk mata bagi suaminya, menjaga lisan dari menyebarkan rahasia suaminya, lalu menjaga harta dan anak-anak suami ketika ia pergi? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihah, bila ia menyuruhnya maka ia menaatinya, bila memandangnya membuat hati senang, bila bersumpah (agar istrinya melakukan sesuatu), maka ia melakukannya dengan baik, dan bila ia pergi maka ia dengan tulus menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)

kehidupan rumah tangga pun akan berjalan penuh dengan kemesraan dan kebahagiaan. Yang satu menjadi tempat berbagi bagi yang lain, saling menasehati dalam ketakwaan, dan saling menetapi dalam kesabaran.

kewajiban istri dalam mematuhi perintah suami telah banyak dibahas. Maka kini penulis akan mencoba mengetengahkan hal-hal apa saja yang tidak boleh dipatuhi oleh seorang istri di saat suaminya memerintah.

Ini Saatnya Mematuhi Perintah Suami

Diantara ciri seorang istri sholihah adalah mematuhi perintah suaminya. Yang dimaksud mematuhi perintah adalah mematuhi dalam hal yang mubah dan disyari’atkan. Jika dalam perkara yang disyari’atkan, tentu hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi hukumnya, karena perkara yang demikian adalah hal-hal yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nya, seperti kewajiban sholat, berpuasa di bulan Ramadhan, memakai jilbab, dan lain-lain. Maka untuk hal ini, seorang hamba tidak boleh meninggalkannya karena meninggalkan perintah Allah Ta’ala adalah sebuah dosa. Sedangkan dalam perkara yang mubah, jika suami memerintahkan kita untuk melakukannya maka kita harus melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan kepada suami. Contohnya suami menyuruh sang istri rajin membersihkan rumah, berusaha mengatur keuangan keluarga dengan baik, selalu bangun tidur awal waktu, membantu pekerjaan suami, dan hal-hal lain yang diperbolehkan dalam syari’at Islam.

Ada Saatnya Menolak Perintah Suami

Jika dalam hal yang disyari’atkan dan yang mubah kita wajib mematuhi suami, maka lain halnya jika suami menyuruh kepada istri untuk melakukan kemaksiatan dan menerjang aturan-aturan Allah. Untuk yang satu ini kita tidak boleh mematuhinya meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kalau sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kita tidak boleh tunduk pada suami yang memerintah kepada kemaksiatan meskipun hati kita begitu cinta dan sayangnya kepada suami. Jika kewajiban patuh pada suami sangatlah besar, maka apalagi kewajiban mematuhi Allah, tentu lebih besar lagi. Allahlah yang menciptakan kita dan suami kita, kemudian mengikat tali cinta diantara sang istri dan suaminya. Namun perlu diketahui, bukan berarti kita harus marah-marah dan bersikap keras kepada suami jika ia memerintahkan suatu kemaksiatan kepada kita, tetapi cobalah untuk menasehatinya dan berbicara dengan lemah lembut, siapa tahu suami tidak sadar akan kesalahannya atau sedang perlu dinasehati, karena perkataan yang baik adalah sedekah.

Saudariku, berikut ini beberapa contoh perintah suami yang tidak boleh kita taati karena bertentangan dengan perintah Allah:

1. Menyuruh Kepada Kesyirikan

Tidak layak bagi kita untuk menaati suami yang memerintah untuk melakukan kesyirikan seperti menyuruh istri pergi ke dukun, menyuruh mengalungkan jimat pada anaknya, ngalap berkah di kuburan, bermain zodiak, dan lain-lain. Ketahuilah saudariku, syirik adalah dosa yang paling besar. Syirik merupakan kezholiman yang paling besar (lihat QS Luqman: 13). Bagaimana bisa seorang hamba menyekutukan Allah sedang Allah-lah yang telah menciptakan dan memberi berbagai nikmat kepadanya? Sungguh merupakan sebuah penghianatan yang sangat besar!

2. Menyuruh Melakukan Kebid’ahan

Nujuh bulan (mitoni – bahasa jawa) adalah acara yang banyak dilakukan oleh masyarakat ketika calon ibu genap tujuh bulan mengandung si bayi. Ini adalah salah satu dari sekian banyak amalan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun begitu banyak masyarakat yang mengiranya sebagai ibadah sehingga merekapun bersemangat mengerjakannya. Ketahuilah wahai saudariku muslimah, jika seseorang melakukan suatu amalan yang ditujukan untuk ibadah padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyontohkannya, maka amalan ini adalah amalan yang akan mendatangkan dosa jika dikerjakan. Ketika sang suami menyuruh istrinya melakukan amalan semacam ini, maka istri harus menolak dengan halus serta menasehati suaminya.

3. Memerintah untuk Melepas Jilbab

Menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah. Ketika suami memerintahkan istri untuk melepas jilbabnya, maka hal ini tidak boleh dipatuhi dengan alasan apapun. Misalnya sang suami menyuruh istri untuk melepaskan jilbabnya agar mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan, hal ini tentu tidak boleh dipatuhi. Bekerja diperbolehkan bagi muslimah (jika dibutuhkan) dengan syarat lingkungan kerja yang aman dari ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) dan kemaksiatan, tidak khawatir timbulnya fitnah, serta tidak melalaikan dari kewajibannya sebagai istri yaitu melayani suami dan mendidik anak-anak. Dan tetap berada di rumahnya adalah lebih utama bagi wanita (Lihat QS Al-Ahzab: 33). Allah telah memerintahkan muslimah berjilbab sebagaimana dalam QS Al-Ahzab: 59. Perintah Allah tidaklah pantas untuk dilanggar, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

3. Mendatangi Istri Ketika Haidh atau dari Dubur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “…dan persetubuhan salah seorang kalian (dengan istrinya) adalah sedekah.” (HR. Muslim)

Begitu luasnya rahmat Allah hingga menjadikan hubungan suami istri sebagai sebuah sedekah. Berhubungan suami istri boleh dilakukan dengan cara dan bentuk apapun. Walaupun begitu, Islam pun memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi, yaitu suami tidak boleh mendatangi istrinya dari arah dubur, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“(Boleh) dari arah depan atau arah belakang, asalkan di farji (kemaluan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka ketika suami mengajak istri bersetubuh lewat dubur, hendaknya sang istri menolak dan menasehatinya dengan cara yang hikmah. Termasuk hal yang juga tidak diperbolehkan dalam berhubungan suami istri adalah bersetubuh ketika istri sedang haid. Maka perintah mengajak kepada hal ini pun harus kita langgar. Hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menjima’ istrinya yang sedang dalam keadaan haid atau menjima’ duburnya, maka sesungguhnya ia telah kufur kepada Muhammad.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Demikianlah saudariku pembahasan singkat yang dapat penulis sampaikan. Sebagai penutup, mari kita ringkas pembahasan ini: Bahwa wajib bagi seorang istri untuk mematuhi apa yang diperintahkan suaminya dalam perkara yang mubah apalagi yang disyari’atkan Allah, namun tidak boleh patuh jika suami memerintahkan kemaksiatan dan yang dilarang oleh Rabb Semesta Alam.

Lalu, perkara apa sajakah yang termasuk dalam larangan Allah? untuk itu, setiap hamba wajib mencari tahu tentang syari’at Islam karena dengannya akan tercapai ketakwaan kepada Allah, yaitu melakukan yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang. Wahai para wanita muslim! Pelajarilah agama Allah dengan menghadiri majelis-majelis yang mengajarkan ilmu syar’i atau dengan menelaah buku dan tulisan para ‘ulama. Tidaklah mungkin seseorang akan mengenal agamanya tanpa berusaha mencari tahu. Dan tidak mungkin pula ilmu akan sampai kepadanya jika ia hanya bermalas-malasan di rumah atau kos, atau hanya sibuk berjam-jam berdandan di depan cermin, serta bergosip ria sepanjang waktu. Sungguh yang seperti itu bukanlah ciri seorang muslimah yang sejati. Bersegeralah melakukan kebaikan wahai saudariku, karena Allah pasti akan membalas setiap kebaikan dengan kebaikan, dan membalas keburukan dengan keburukan walaupun hanya sebesar biji sawi. Setiap anak Adam memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang senantiasa berusaha untuk memperbaiki dirinya

Referensi : Istri Solikah 







7 Penyebab Musibah

Ilustrasi : Penyebab Musibah

Tujuh Penyebab Musibah. Rasanya, tidak salah jika tulisan ini mengajak kita semua untuk benar-benar bertobat, Belum kering air mata ini dengan derita Palu dan Donggala yang dihantam tsunami dan likuefaksi. Kini, Selat Sunda mengempaskan gulungan ombaknya kuat-kuat di Banten dan Lampung. Dan sudah pasti, kembali berjatuhan korban; meninggal, luka berat, hilang, rumah dan hotel rata, semua porak poranda.

Rasanya, tidak salah jika tulisan ini mengajak kita semua untuk benar-benar bertobat, merenung dan bermuhasabah atas apa saja yang pernah kita lakukan, baik sebagai pribadi antara kita sebagai hamba ciptaan-Nya dengan Allah sebagai Sang Khaliq maupun sebagai anak bangsa dalam perilakunya di negeri tercinta.

Jujurlah, dalam hidup yang sebenarnya sebentar ini terlampau banyak dosa dan maksiat kita. Tiap-tiap detik kedurhakaan kita sampai kepada-Nya. Sementara ibadah dan amal shaleh kita seba gai bekal pulang menghadap-Nya juga teramat sedikit. Anehnya, yang meluncur deras kepada kita karunia dan rezeki-Nya. Sudah wa hai saudaraku dan cukup. Ingat, kalau nasihat ulama, Alquran dan Sunah sudah tidak didengar, alam yang milik Allah ini akan bicara. Wahai peduduk Indonesia yang diberi iman oleh Allah, dengan musibah yang beruntun menghantam negeri ini, tidakkah kita menya dari bahwa alam benar-benar sedang menasihati kita.

Camkanlah tujuh amal penyebab musibah beruntun menimpa kita. Pertama, dosa yang sangat besar. Dalam surah Yassin ayat 19 dijelaskan dengan terang benderang bahwa kemalangan demi kemalangan, musibah yang susul-menyusul, semua itu terjadi karena dosa keterlaluan kita kepada Allah.

Kedua, karena kedurhakaan dan kezaliman. Surah al-Qasas ayat 59 menerangkan, Allah tidak akan menghancurkan suatu daerah, kecuali para penduduknya yang berbuat zalim. Anak durhaka kepada orang tua, istri berani kepada suaminya, banyak perampokan, pembunuhan, dan perzinaan. Kezaliman dan kedurhakaan yang tak bertepi ini pengundang cepat bala bencana.

Ketiga, perusakan alam yang sistemis dan masif. Surah Ar- Rum ayat 41 mengingatkan, telah tampak kerusakan di da-ratan dan lautan karena ulah tangan-tangan jahil manusia, agar mereka merasakan akibat perbuatanny dan mereka kembali kepada-Nya.

Keempat, karena pemimpin maksiat dan zalim kepada rakyatnya. Baca dengan iman, wahai penduduk Indonesia yang mulia, "Bila kami ingin menghancurkan suatu negeri, para tokohnya diingatkan untuk taat kepada Allah, tapi mereka maksiat, tapi mereka berbuat zalim, tapi mereka berkhianat kepada-Ku dan makhluk-Ku, maka haklah untuk mereka datang bala bencana."

Ingat azab yang dialami sejumlah kaum sebelum Nabi Muhammad SAW, antara lain, kaum Adh, kaum Samuth, kaum Luth, dan kaum Nuh. Mereka Allah hancurkan sehancur-hancurnya. Lalu siapa tokoh itu? Para pemimpin kita yang disumpah Alquran di kepalanya.

Demi Allah tidak korupsi, lalu korupsi. Siapa lagi? Hartawan atau orang-orang kaya yang dengan hartanya berfoya-foya, sombong, maksiat dengan kekayaannya di tengah banyak orang yang menderita. Siapa lagi? Ulama yang menjual ayat-ayat Allah dengan murah.

Kelima, orang baik diam. Bukannya tidak ada orang baik. Banyak orang baik di negeri ini. Tapi mereka lebih memilih diam. Dan melakukan pembiaran terhadap kejahatan dan kemungkaran.

Alquran Surah al-Anfal ayat 25, "Takutlah kalian dengan musibah yang tidak hanya menimpa orang yang maksiat, orang yang berbuat zalim, tapi juga kalian yang shaleh." Maka, masa bodoh dengan kemaksiatan bukanlah sikap seorang Mukmin. Amar ma'ruf nahi mungkar adalah amal cerdas orang yang beriman. Keenam, rahmat Allah. Musibah katanya sebuah peringatan agar manusia kembali ke jalan-Nya. Dengan musibah Allah hadirkan mahkamah kesadaran kita bahwa ini adalah sebuah jalan untuk kembali (baca QS al-Baqarah, 2: 155-157).

Ketujuh, teguran agar tetap bersabar. Musibah pun dapat dijadikan pelajaran agar semakin giat beribadah dan berbuat baik. Bagaimana yang maksiat tapi selamat? Mereka tenang-tenang saja. Yang berbuat zalim, malah sukses? Di mana keadilannya?

Allah Mahaadil, "Barang siapa mencari kemenangan dunia lalu dia menghalalkan semua cara, apa kata Allah? 'Kami beri, tapi di akhirat tidak mendapatkan secuil pun kenikmatan, malah nikmat di dunia yang menjadi bahan bakar. Azab untuk dirinya. Itulah istidraj, orang beriman menjadikan peristiwa apa pun sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah," (QS Hud, 15-16)

Referensi : 7 Penyebab Musibah










Peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu

Ilustrasi : Peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu

Ternyata bencana tidak hanya menimpa para pelaku kezaliman, tetapi juga semua orang. 

  وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al Anfal 25). 

Apakah berarti Tuhan tidak adil terhadap orang yang tidak zalim? Ternyata tidak demikian. Dalam rumus Rasulullah SAW disebutkan berikut ini: 

إن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك أن يعمهم الله بعقابه 

"…jika kebanyakan orang melihat kemunkaran atau kezaliman di depan mata mereka, tapi mereka tidak mengubahnya, padahal mereka mampu mengubahnya maka mereka akan terkena bencana pula." (HR Ahmad Tabrani). 

Artinya, orang baik diazab dengan bencana karena tidak mencegah kemunkaran (nahi mungkar).

Jika demikian, nahi mungkar adalah penyelamat manusia dari bencana. Ma sa lahnya, bagaimana mengukurnya. Artinya, bencana akan terjadi untuk semua orang ketika persentase pelaku kemunkaran semakin tinggi, sementara persentase pelaku nahi mungkar semakin rendah. Mungkin ini bisa jadi jawabannya, mengapa di negeri ini banyak bencana alam.

Jika demikian, apakah bencana menunjukkan bahwa Tuhan tidak baik? Ter nyata juga tidak demikian, sebab bencana mengakibatkan empat hal. 1) Kematian bagi yang zalim, 2) Kematian bagi orang saleh, 3) Ujian bagi yang terkena bencana dan tidak mati, 4) Keuntungan bagi yang tidak terkena bencana.

Kematian bagi yang zalim adalah untuk menghindari atau memutus kezaliman dalam kehidupannya (rahatan minkulli syarr). Bagi bayi atau anak belum baligh, kematiannya adalah untuk menghindarkannya dari berbuat zalim di dunia dan surga baginya. 

Referensi : Tuhan Zalim Timpakan Petaka Juga kepada Orang Saleh?

Bagi orang saleh, kematian adalah perjumpaan dengan kekasih-Nya, yaitu Allah SWT. Jadi, hidup dan mati adalah untuk "Menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya (QS al-Mulk [67]: 2). Namun, kematian menurut Rasulullah SAW,"… adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman." (HR Muslim).

Bagi yang tidak menemui ajal dalam bencana dan kehilangan atau rugi besar, ia sedang mendapat ujian, pelajaran, dan peringatan (bala). Jika ia sabar dan syukur, akan lulus dan mendapat ridha Allah. Sedangkan bagi yang kufur dan marah akan mendapat kemarahan dari Allah. Bagi yang selamat dari kematian, boleh jadi ia beruntung secara finansial ataupun spiritual. Ia dapat menambah kebaikan (ziyadatan min kulli khayr).

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa Allah itu tidak sedikit pun menzalimi hamba-Nya (QS An Nisa [4]: 40; Al Kahfi [18]: 49). Bahkan, Allah "telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya" (HR Muslim). Justru manusialah yang zalim pada diri sendiri dan berburuk sangka kepada Allah. Singkat kata, Tuhan Allah itu Mahabaik.

Referensi : peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu






Dalam Islam, Istri Berhak Minta Cerai Jika Suami Kasar Tapi Perlu Lakukan Hal ini Lebih Dulu (Dzalim)

Gambar Ilustrasi : Dalam Islam, Istri Berhak Minta Cerai Jika Suami Kasar Tapi Perlu Lakukan Hal ini Lebih Dulu (Dzalim)

Kasus seorang istri telah menikahi seorang laki-laki yang kini menjadi suaminya. Sayangnya suaminya tersebut sering memperlakukannya kasar dan sering memukul, sehingga istri tidak tahan lagi dengan tabiat si suami.  Bagaimana seharusnya si istri harus bersikap? Berikut jawaban menurut kacamata Islam. Melihat kasus suami yang suka memukuli istri bahkan anak-anaknya, tentu perlakuannya ini termasuk melanggar perintah Allah.

Semestinya seorang suami adalah memperlakukan istri dengan baik, dan menggauli istri dengan cara terbaik.  Islam mengatur berbagai permasalahan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam persoalan pernikahan tentang talak atau perceraian. Syekh Ibnu Utsmain dilansir dalam buku Fikih Kontemporer: Wanita dan Pernikahan menjawab pertanyaan istri yang sering dipukuli oleh suaminya setiap kali masuk rumah.

Untuk permasalahan yang membuat istri akhirnya sampai tidak tahan dengan perlakuan suami, maka sudah menjadi hak istri untuk meminta talak atau tidak.  Namun, ada nasihat dari Syekh Ibnu Baz dalam buku yang sama yaitu sebaiknya menasihati suami terlebih dahulu dengan cara yang baik dan juga mendoakannya agar mendapat hidayah dari Allah SWT.   Apabila tetap tidak berubah juga, maka silakan melakukan talak sesuai prosedur yang berlaku sesuai hukum di wilayah tersebut Wallahu a’alam.

Semoga artikel jawaban mengenai perlakuan suami yang kasar dan suka memukul ini bermanfaat.  Menurutnya, tidak termasuk menggauli istri dengan baik apabila suami masuk rumah dalam keadaan marah, membentak, menghardik, dan memukul.  Perlakuan kasar ini tidak akan dilakukan oleh orang berakal sehat, tapi dilakukan oleh orang-orang berakal lemah rendah nilai-nilai agamanya.

Referensi : Dalam Islam, Istri Berhak Minta Cerai Jika Suami Kasar Tapi Perlu Lakukan Hal ini Lebih Dulu








Zina dalam Islam & Jenisnya, Ini Dosa, Bahaya Serta Balasannya

Ilustrasi : Zina dalam Islam & Jenisnya, Ini Dosa, Bahaya Serta Balasannya. Zina dalam Islam merupakan sebuah perbuatan terlarang dan mendapatkan balasan yang pedih dari Allah SWT. Seringkali zina selalu dikaitkan dengan hubungan intim yang dilakukan oleh dua perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim.  Namun nyatanya, zina tidak hanya terbatas pada perbuatan tersebut. Namun, perbuatan zina juga dapat disebut pada perbuatan-perbuatan yang mampu membangkitkan nafsu syahwat dari lawan jenis bukan muhrim.  Padahal, dalam Alquran telah disebutkan secara jelas bahwa Allah SWT melarang hamba-Nya untuk menjauhi nafsu syahwat terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya. Selain mendatangkan dosa dan azab yang pedih dari Allah, melakukan zina juga dapat menimbulkan berbagai bahaya hingga ancaman penyakit pada tubuh apabila dilakukan secara terus-menerus.  Lantas, bagaimana sebenarnya zina dalam hukum Islam hingga jenisnya yang seringkali dilakukan oleh manusia tanpa disadari? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, dirangkum dari berbagai sumber.  Jenis Zina Zina dalam Islam terbagi menjadi beberapa jenis. Yakni zina al-laman, zina muhsan, dan zina ghairu muhsan. Berikut penjelasan selengkapnya:  Zina Al-Laman Jenis zina yang pertama ini merupakan zina yang pada umumnya dilakukan oleh panca indera. Hal ini jelas dilarang dalam Islam, seperti sabda Rasulullah berikut ini:  "Telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan (hasrat) dan yang membenarkan dan mendustakannya adalah kemaluan." (HR. Muslim)  Zina Muhsan Zina muhsan merupakan jenis zina yang dilakukan oleh mereka dengan status telah berkomitmen untuk mengikat janji di dalam suatu pernikahan. Atau kata lain, zina ini dilakukan oleh mereka yang telah beristri atau bersuami. Hal ini seringkali terjadi dan berujung pada perselingkuhan hingga perceraian.  Zina Ghairu Muhsan Jenis zina ghairu muhsan merupakan zina yang dilakukan oleh seorang wanita atau laki-laki dengan status pernikahan yang belum sah atau belum pernah menikah. Hal ini seringkali dilakukan oleh sepasang kekasih atau wanita dan laki-laki yang melakukan hubungan intim sebelum menikah.  Berzina Adalah Perbuatan Haram Zina dalam Islam secara tegas merupakan perbuatan haram dan termasuk ke dalam dosa besar. Hal tersebut seperti yang tertulis pada firman Allah sebagai berikut:  "Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya) (68) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina (69)." (QS Al-Furqan: 68-69).  Hukuman di Dunia Bagi Pezina Selain mendapatkan dosa besar dan laknat dari Allah SWT, zina dalam Islam juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal saat di dunia. Hukuman tersebut tak lain berupa rajam atau dilempari batu hingga mati. Sedangkan pada pelaku yang belum menikah, maka pelaku akan mendapatkan hukum cambuk sebanyak 100 kali hingga diasingkan dalam kurun waktu tertentu.  "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman." (QS. An-Nur: 2).  Bahaya Melakukan Zina Tak hanya berdosa, zina dalam Islam juga dapat mendatangkan berbagai bahaya yang mengintai bagi para pelaku. Terlebih, jika hal ini seringkali dilakukan maka berbagai ancaman gangguan kesehatan pun juga dapat timbul hingga mengakibatkan kematian.  Berikut beberapa bahaya melakukan zina yang dapat dialami oleh pelaku:  Masa depan dapat rusak akibat dari berbagai dampak yang ditimbulkan usai melakukan zina. Memupuk dosa yang menghilangkan sikap untuk menjaga diri daripada berbuat dosa. Mendapatkan aib yang berkepanjangan. Memicu konflik dalam kehidupan sosial. Cenderung kekal dalam kemiskinan dan tak akan merasa cukup dengan yang dimiliki. Merusak martabat di hadapan masyarakat dan Allah SWT. Dicampakkan oleh Allah SWT hingga kehidupan yang tak mendapatkan keberkahan. Terjangkit penyakit mematikan seperti HIV/AIDS hingga berbagai macam penyakit menular seks lainnya. Balasan Bagi Pezina Tak hanya mendapatkan kerugian saat di dunia, pelaku zina dalam Islam juga akan diberi balasan oleh Allah SWT kelak di kemudian hari. Hal ini seperti yang pernah disampaikan Rasulullah SAW dengan sabda:  "Dua kejahatan akan dibalas oleh Allah ketika di dunia: zina dan durhaka kepada ibu bapak." (HR. Thabrani).  Melakukan zina berarti sama dengan menghilangkan cahaya mulia dari raut wajah hingga memperpendek usia di muka bumi. Maka dari itu, hindari untuk melakukan zina dan semakin dekatkan diri kepada Allah SWT saat nafsu duniawi terasa menggebu-gebu. Alihkan secara langsung dengan melakukan berbagai ibadah yang justru akan membawa kita ke jalan kebenaran di dunia dan akhirat.  Referensi : Zina dalam Islam & Jenisnya, Ini Dosa, Bahaya Serta Balasannya

Zina dalam Islam & Jenisnya, Ini Dosa, Bahaya Serta Balasannya. Zina dalam Islam merupakan sebuah perbuatan terlarang dan mendapatkan balasan yang pedih dari Allah SWT. Seringkali zina selalu dikaitkan dengan hubungan intim yang dilakukan oleh dua perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim.  Namun nyatanya, zina tidak hanya terbatas pada perbuatan tersebut. Namun, perbuatan zina juga dapat disebut pada perbuatan-perbuatan yang mampu membangkitkan nafsu syahwat dari lawan jenis bukan muhrim.

Padahal, dalam Alquran telah disebutkan secara jelas bahwa Allah SWT melarang hamba-Nya untuk menjauhi nafsu syahwat terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya. Selain mendatangkan dosa dan azab yang pedih dari Allah, melakukan zina juga dapat menimbulkan berbagai bahaya hingga ancaman penyakit pada tubuh apabila dilakukan secara terus-menerus.

Lantas, bagaimana sebenarnya zina dalam hukum Islam hingga jenisnya yang seringkali dilakukan oleh manusia tanpa disadari? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, dirangkum dari berbagai sumber.

Jenis Zina

Zina dalam Islam terbagi menjadi beberapa jenis. Yakni zina al-laman, zina muhsan, dan zina ghairu muhsan. Berikut penjelasan selengkapnya:

Zina Al-Laman

Jenis zina yang pertama ini merupakan zina yang pada umumnya dilakukan oleh panca indera. Hal ini jelas dilarang dalam Islam, seperti sabda Rasulullah berikut ini:

"Telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan (hasrat) dan yang membenarkan dan mendustakannya adalah kemaluan." (HR. Muslim)

Zina Muhsan

Zina muhsan merupakan jenis zina yang dilakukan oleh mereka dengan status telah berkomitmen untuk mengikat janji di dalam suatu pernikahan. Atau kata lain, zina ini dilakukan oleh mereka yang telah beristri atau bersuami. Hal ini seringkali terjadi dan berujung pada perselingkuhan hingga perceraian.

Zina Ghairu Muhsan

Jenis zina ghairu muhsan merupakan zina yang dilakukan oleh seorang wanita atau laki-laki dengan status pernikahan yang belum sah atau belum pernah menikah. Hal ini seringkali dilakukan oleh sepasang kekasih atau wanita dan laki-laki yang melakukan hubungan intim sebelum menikah.

Berzina Adalah Perbuatan Haram

Zina dalam Islam secara tegas merupakan perbuatan haram dan termasuk ke dalam dosa besar. Hal tersebut seperti yang tertulis pada firman Allah sebagai berikut:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya) (68) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina (69)." (QS Al-Furqan: 68-69).

Hukuman di Dunia Bagi Pezina

Selain mendapatkan dosa besar dan laknat dari Allah SWT, zina dalam Islam juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal saat di dunia. Hukuman tersebut tak lain berupa rajam atau dilempari batu hingga mati. Sedangkan pada pelaku yang belum menikah, maka pelaku akan mendapatkan hukum cambuk sebanyak 100 kali hingga diasingkan dalam kurun waktu tertentu.

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman." (QS. An-Nur: 2).

Bahaya Melakukan Zina

Tak hanya berdosa, zina dalam Islam juga dapat mendatangkan berbagai bahaya yang mengintai bagi para pelaku. Terlebih, jika hal ini seringkali dilakukan maka berbagai ancaman gangguan kesehatan pun juga dapat timbul hingga mengakibatkan kematian.

Berikut beberapa bahaya melakukan zina yang dapat dialami oleh pelaku:

  1. Masa depan dapat rusak akibat dari berbagai dampak yang ditimbulkan usai melakukan zina.
  2. Memupuk dosa yang menghilangkan sikap untuk menjaga diri daripada berbuat dosa.
  3. Mendapatkan aib yang berkepanjangan.
  4. Memicu konflik dalam kehidupan sosial.
  5. Cenderung kekal dalam kemiskinan dan tak akan merasa cukup dengan yang dimiliki.
  6. Merusak martabat di hadapan masyarakat dan Allah SWT.

Dicampakkan oleh Allah SWT hingga kehidupan yang tak mendapatkan keberkahan.

Terjangkit penyakit mematikan seperti HIV/AIDS hingga berbagai macam penyakit menular seks lainnya.

Balasan Bagi Pezina

Tak hanya mendapatkan kerugian saat di dunia, pelaku zina dalam Islam juga akan diberi balasan oleh Allah SWT kelak di kemudian hari. Hal ini seperti yang pernah disampaikan Rasulullah SAW dengan sabda:

"Dua kejahatan akan dibalas oleh Allah ketika di dunia: zina dan durhaka kepada ibu bapak." (HR. Thabrani).

Melakukan zina berarti sama dengan menghilangkan cahaya mulia dari raut wajah hingga memperpendek usia di muka bumi. Maka dari itu, hindari untuk melakukan zina dan semakin dekatkan diri kepada Allah SWT saat nafsu duniawi terasa menggebu-gebu. Alihkan secara langsung dengan melakukan berbagai ibadah yang justru akan membawa kita ke jalan kebenaran di dunia dan akhirat.

Referensi : Zina dalam Islam & Jenisnya, Ini Dosa, Bahaya Serta Balasannya